Senin, 21 November 2016

Askep Herpes Zoster



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Kulit adalah jaringan yang selama ini kurang diperhatikan oleh sebagian besar orang dan mereka baru menyadari betapa pentingnya kulit pada anggota tubunya sendiri padahal kulit mempunyai peranan yang sangat penting. Ada beberapa penyakit kulit yang menyebabkan gatal dan ketidaknyamanan untuk jangka waktu lama dan  dapat menyebabkan kegagalan fungsi kulit.
Infeksi virus varicella-zoster (VVZ) yang menyebabkan varisela atau cacar air dapat menyerang hampir setiap individu di seluruh dunia. Setelah sembuh dari varisela, virus menetap laten pada ganglia radiks dorsalis yang dapat mengalami reaktivasi menjadi herpes zoster (HZ), atau yang lebih dikenal dengan nama shingles atau dompo. Herpes zoster merupakan penyakit kulit yang bercirikan timbulnya ruam kulit dengan distribusi dermatomal dan disertai rasa nyeri yang hebat (Christo, 2007).
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia dan dapat muncul
sepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim. Tidak ada perbedaan dalam morbiditas antara pria dan wanita. Berdasarkan studi di Eropa dan Amerika Utara, diperkirakan ada sekitar 1,5-3 per 1000 orang per tahun pada segala usia dan kejadian meningkat tajam pada usia lebih dari 60 tahun yaitu sekitar 7-11 per 1000 orang per tahun (Gnann dan Whitley, 2002). Insiden herpes zoster meningkat seiring bertambahnya usia, di mana lebih dari 2/3 kasus terjadi pada usia lebih dari 50 tahun dan kurang dari 10% di bawah 20 tahun (Schmader & Oxman, 2012).
Meningkatnya insidensi pada usia lanjut ini berkaitan dengan menurunnya respon imun dimediasi sel yang dapat pula terjadi pada pasien imunokompromais seperti pasien HIV-AIDS, pasien dengan keganasan, dan pasien yang mendapat obat imunosupresi. Namun, insidensinya pada pasien imunokompeten pun besar. Herpes zoster sendiri meskipun bukan penyakit yang life-threatening, namun dapat menggangu pasien sebab dapat timbul rasa nyeri. Lebih lanjut lagi nyeri yang dialami saat timbul lesi kulit dapat bertahan lama, hingga berbulan-bulan lamanya sehingga dapat menggangu kualitas hidup pasien – suatu keadaan yang disebut dengan neuralgia paska herpetika (NPH) (Johnson, 2009).
Tujuan utama terapi pada pasien herpes zoster adalah untuk membatasi
berkembangnya penyakit, durasi dan peningkatan rasa sakit dan lesi di dermatom primer, mencegah penyakit di tempat lain, dan mencegah NPH (Prabhu, 2009).
            Melihat dari prevalensi tersebut, maka kelompok tertarik untuk membahas makalah tentang penyakit pada kulit yaitu Herpes Zooster karena sering terjadi pada masyarakat luas.

B.     Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah terdiri dari :
Ø  Tujuan Umum  :
Untuk memenuhi tugas mata pelajaran sistem integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster.
Ø  Tujuan Khusus :
-          Mengetahui pengertian herpes zooster
-          Mengetahui penyebab herpes zooster
-          Mengetahui tanda dan gejala herpes zooster
-          Mengetahui klasifikasi herpes zooster
-          Mengetahui patofisiologi herpes zooster
-          Mengetahui pemeriksaan penunjang herpes zooster
-          Mengetahui asuhan keperawatan herpes zooster sesuai literatur
-          Mengetahui asuhan keperawatan herpes zooster sesuai kasus
-          Mengetahui etik dan legal dalam keperawatan integumen

C.    Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan makalah ini membahas tentang sistem integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster.

D.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari Bab I Pendahuluan, berisi : latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup penulisan dan sistematika penulisan ; Bab II Tinjauan Teoritis, berisi : tentang sistem integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster ; Bab III Tinjauan Kasus, berisi : tentang sistem integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster ; Bab IV Penutup, berisi : kesimpulan dan saran.
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Definisi
Herpes Zoster adalah radang kulit akut dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang tersusun kelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya unilateral. (PurrawanJuradi, 1982 : 510).
Herpes Zoster adalah infeksi yang dialami mereka yang tidak mempunya kekebalan terhadap varicella (misalnya mereka yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh varicella dalam bentuk cacar air) (Brunner & Suddart Edisi 8,Vol 3)
Epidemiologi
Herpes zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Di negara maju seperti Amerika, penyakit ini dilaporkan sekitar 6% setahun, di Inggris 0,34% setahun sedangkan di Indonesia lebih kurang 1% setahun. Herpes zoster terjadi pada orang yang pernah menderita varisela sebelumnya karena varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama yaitu virus varisela zoster. Setelah sembuh dari varisela, virus yang ada di ganglion sensoris tetap hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika daya tahan tubuh menurun. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% usia di bawah 20 tahun. Kurnia Djaya pernah melaporkan kasus hepes zoster pada bayi usia 11 bulan.
Kesimpulan kelompok :
Herpes zooster adalah radang kulit yang disebabkan oleh virus varicella yang merupakan penyakit kelanjutan dari cacar air.

B.     Etiologi
Herpes Zoster disebabkan oleh virus varicella zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA. Virus ini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamily alfa herpes viridae. Berdasarkan sifat biologis nya seperti siklus replikasi, penjamu, sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamily yaitu alfa, beta, dan gama.Masa inkubasinya 14–21 hari.


a)      Faktor Resiko Herpes zoster
1.      Usia lebih dari 50 tahun, infeksi ini sering terjadi pada usia ini akibat daya tahan tubuhnya melemah. Makin tua usia penderita herpes zoster makin tinggi pula resiko terserang nyeri.
2.      Orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukimia. Adanya lesi pada ODHA merupakan manifestasi pertama dari immunocompromised.
3.      Orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi.
4.      Orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang.
b)      Factor pencetus kambuhnya Herpes zoster
1.      Trauma / luka
2.      Kelelahan
3.      Demam
4.      Alkohol
5.      Gangguan pencernaan
6.      Obat – obatan
7.      Sinar ultraviolet
8.      Haid
9.      Stress
Secara umum, penyebab dari terjadinya herpes simpleks ini adalah sebagai berikut:
1.      Herpes Virus Hominis (HVH).
2.      Herpes Simplex Virus (HSV)
3.      Varicella Zoster Virus (VZV)
4.      Epstein Bar Virus (EBV)
5.      Citamoga lavirus (CMV)

Namun yang paling sering herpes simpleks disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I dan tipe II. Cara penularan melalui hubungan kelamin, tanpa melalui hubungan kelamin seperti : melalui alat-alat tidur, pakaian, handuk,dll atau sewaktu proses persalinan/partus pervaginam pada ibu hamil dengan infeksi herpes pada alat kelamin luar.
Perbedaan HSV tipe I dengan tipe II
HSV tipe I
HSV tipe II
Predileksi
Kulit dan mukosa di luar
Kulit dan mukosa daerah genetalia dan perianal
Kultur pada chorioallatoic membran (CAM) dari telur ayam
Membentuk bercak kecil
Membentuk pock besar dan tebal
Serologi
Antibodi terhadap HSV tipe I
Antibodi terhadap HSV tipe II
Sifat lain
Tidak bersifat onkogeni
Bersifat onkogeni

Faktor pencetus replikasi virus penyebab herpes simpleks :
a)      Herpes oro-labial.
-     Suhu dingin.
-     Panas sinar matahari.
-     Penyakit infeksi (febris).
-     Kelelahan.
-     Menstruasi.
b)      Herpes Genetalis
-        Faktor pencetus pada herpes oro-labial.
-        Hubungan seksual.
-        Makanan yang merangsang.
-        Alcohol.
c)      Keadaan yang menimbulkan penurunan daya tahan tubuh:
-        Penyakit DM berat.
-        Kanker.
-        HIV.
-        Obat-obatan (Imunosupresi, Kortikosteroid).
-        Radiasi.
Kesimpulan kelompok :
                  Penyebab herpes zooster adalah virus varicella zooster yang bisa terjadi pada siapa saja yang mengalami penurunan immunitas tubuh, tidak pernah vaksinasi cacar pada masa balita dan personal hygiene yang kurang. Herpes zooster dapat ditularkan melalui udara dan kontak langsung dengan penderita. Masa inkubasi penyakit ini selama 10-21 hari.

C.     Tanda dan gejala
a.       Gejala prodromal
1.      Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodomal yang berlangsung selama 1 – 4 hari.
2.      Gejala yang mempengaruhi tubuh : demam, sakit kepala, fatigue, malaise, nusea, rash, kemerahan, sensitive, sore skin ( penekanan kulit), nyeri, (rasa terbakar atau tertusuk), gatal dan kesemutan.
3.      Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus – menerus atau hilang timbul. Nyeri juga bias terjadi selama erupsi kulit.
4.      Gejala yang mempengaruhi mata :
Berupa kemerahan, sensitive terhadap cahaya, pembengkakan kelopak mata. Kekeringan mata, pandangan kabur, penurunan sensasi penglihatan dan lain – lain.
b.      Timbul erupsi kulit
1.      Kadang terjadi limfa denopati regional
2.      Erupsi kulit hamper selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di seluruh bagian tubuh, yang tersering di daerah ganglion torakalis.
3.      Lesi dimulai dengan macula eritroskuamosa, kemudian terbentuk papul – papul dan dalam waktu 12 – 24 jam lesi berkembang menjadi vesikel. Pada hari ketiga berubah menjadi pastul yang akan mongering menjadi krusta dalam 7 – 10 hari. Krusta dapat bertahan sampai 2 – 3 minggu kemudian mengelupas. Pada saat ini nyeri segmental juga menghilang.
4.      Lesi baru dapat terus muncul sampai hari ke – 4 dan kadang – kadang sampai hari ke 7
5.      Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan macula hiperpigmentasi dan jaringan parut (pitted scar)
6.      Pada lansia biasanya mengalami lesi yang lebih parah dan mereka lebih sensitive terhadap nyeri yang dialami.
Kesimpulan kelompok :
                  Tanda gejala pada herpes zooster biasanya penderita mengalami demam, nyeri, gatal-gatal pada kulit dan terasa panas pada bintil-bintil kemerahan yang ada di kulit.

D.    Klasifikasi
1.      Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gas seri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus (N.V), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelaina nkulit timbul. Fotofobia, banyak keluar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka.
Add caption
Gambar 1.Herpes zoster oftalmikus sinistra.

2.      Herpes zoster fasialis
Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gas seri yang menerima serabut saraf fasialis (N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 2.Herpes zoster fasialis dekstra.

3.      Herpes zoster brakialis
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 3.Herpes zoster brakialis sinistra.

4.      Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 4.Herpes zoster torakalis sinistra.


5.      Herpes zoster lumbalis
Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
6.      Herpes zoster sakralis
Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.
Gambar 6.Herpes zoster sakralis dekstra.
            Kesimpulan kelompok :
                        Kelompok menyimpulkan pada kasus yang kami dapat merupakan herpes zooster torakalis karena terjadi di daerah thorakal anterior dextra dan thorakalis posterior dekat axila dextra.

E.     Patofisiologi
Sesudah seseorang menderita cacar air, virus verisela- zoester yang diyakini sebagai penyebab terjadinya penyakit ini hidup secara inaktif (dorman) di dalam sel-sel saraf di deket otak dan medulla spinalis. Kemudian hari ketika virus yang laten ini mengalami reaktivitas, virus tersebut berjalan lewat saraf perifer ke kulit. Virus varicella yang dorman di aktifkan dan timbul vesikel-vesikel meradang unilateral di sepanjang satu dermatom. Kulit di sekitarnya mengalami edema dan pendarahan. Keadaan biasanya di dahului atau di sertai nyeri hebat dan atau rasa terbakar. Meskipun setiap saraf dapat terkena, tetapi saraf thorakal, lumbal, atau kranial agaknya sering terserang. Herpes zoster dapat berlangsung selama kurang lebih 3 minggu.
Adanya keterlibatan saraf perifer secara local memberikan respon nyeri, kerusakan integritas jaringan terjadi akibat adanya vesikula. Respon sistemik memberikan manifestasi peningkatan suhu tubuh, perasaan tidak enak badan, dan gangguan gastrointestinal. Respon psikologis pada kondisi adanya lesi pada kulit memberikan kecemasan dan gangguan gambaran diri.
Kesimpulan kelompok :
                  Virus varicella masuk ke dalam tubuh pada saat tubuh dalam penurunan imunitas, sehingga virus tersebar di dalam tubuh menimbulkan tiga respon yaitu
1.      Respon inflamasi lokal yang menyebabkan kerusakan perifer dan menimbulkan nyeri dan kerusakan integritas kulit
2.      Respon inflamasi sistemik yang menimbulkan gangguan gastrointestinal yaitu mual dan anoreksia
3.      Respon psikologis yang mengakibatkan kondisi kerusakan jaringan kulit.

F.     Komplikasi
a.       Neuralgia pasca herpes
Ini adalah kompolasi paling umum, nyeri syaraf (neuralgia) akibat herpes zoster ini tetap bertahan setelah lepuhan kulit menghilang. Masalah ini jarang terjadi pada orang yang dibawah 50 tahun, rasa nyeri biasanya secara bertahap menghilang dalam 1 bulan tetapi pada beberapa orang dapat berlangsung berbulan-bulan bila tanpa pengobatan.
b.      Infeksi Kulit
Kadang lepuhan terinfeksi oleh bakteri sehingga kulit disekitarnya menjadi merah meradang. Jika hal ini terjadi maka diperlukan antibiotik.
c.       Mata
Herpes zozter pada mata dapat menyebabkan peradanagn sebagian atau seluruh bagian mata yang mengancam penglihatan.
d.      Kelemahan atau layu otot
Kadang-kadang syaraf yang tekena dampak adalah syaraf motorik dan sensorik yang sensitif. Hal ini dapat menimbulkan kelemahan pada otot-otot yang dikontrol oleh syaraf.
e.       Komplikasi lain
Misalnya, infeksi oleh virus varicella zoster, atau penyebaran virus keseluruh tubuh ini adalah komplikasi yang sanagt serius tapi jarang terjadi pada penderita herpes zoster dengan sistem kekebalan tubuh yang melemah.
Kesimpulan kelompok :
Komplikasi pada herpes zooster meliputi neuralgia, infeksi kulit, mata dan kelemahan otot
     
G.    Pemeriksaan Diagnostik
Tujuan dari pemeriksaan dagnostik adalah dilakukan untuk membedakan dari impetigo, kontak dermatitis dan herpes simpleks. Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan  meliputi beberapa hal :
1.      Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi tidak dapat membedakan herpes zoster dan herpes simplex.
2.      Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody : digunakan untuk membedakan diagnosis herpes virus.
3.      Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di sel kulit.
4.      Pemeriksaan histopatologik.
5.      Pemerikasaan mikroskop electron.
6.      Kultur virus.
7.      Identifikasi anti gen / asam nukleat VVZ.
8.      Deteksi antibody terhadap infeksi virus

Kesimpulan kelompok :
      Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penyakit herpes zooster
terdapat 8 jenis pemeriksaan.

H.    Penatalaksanaan
Penatalaksanaan Herpes zoster
a.       Pengobatan
1)      Pengobatan topical
·         Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak kocok kalamin untuk mencegah vesikel pecah
·         Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x sehari selama 20 menit
·         Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan salep antibiotik (basitrasin / polysporin ) untuk mencegah infeksi sekunder selama 3 x sehari.
2)      Pengobatan sistemik
·         Drug of choice- nya adalah acyclovir yang dapat mengintervensi sintesis virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan infeksi herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat diberikan secara oral, topical atau parenteral. Pemberian lebih efektif pada hari pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang kecil terhadap postherpetic neuralgia.
·         Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara – A, Vira – A) dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata.
·         Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon inflamasi dan efektif namun penggunaannya masih kontroversi karena dapat menurunkan penyembuhan dan menekan respon immune.
·         Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk manajemen nyeri dan antihistamin diberikan untuk menyembuhkan priritus.

b.      Penderita dengan keluhan mata
Keterlibatan seluruh mata atau ujung hidung yang menunjukan hubungan dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus, harus ditangani dengan konsultasi opthamologis. Dapat diobati dengan salaep mata steroid topical dan mydriatik, anti virus dapat diberikan

c.       Neuralgia Pasca Herpes zoster
·         Bila nyeri masih terasa meskipun sudah diberikan acyclovir pada fase akut, maka dapat diberikan anti depresan trisiklik ( misalnya : amitriptilin 10 – 75 mg/hari)
·         Tindak lanjut ketat bagi penanganan nyeri dan dukungan emosional merupakan bagian terpenting perawatan
·         Intervensi bedah atau rujukan ke klinik nyeri diperlukan pada neuralgi berat yang tidak teratasi.
Pada prinsipnya, penanganan dari infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) ada 2 macam, yaitu:
1.      Terapi Spesifik;
a)      Infeksi primer
·         Topikal : Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4 hari) atau Acyclovir krim 5% (tiap 3 jam selama 4 hari). Idealnya, krim ini digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga pemberian yang terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi perluasan daerah lesi. (Rekomendasi FDA & IHMF)
·         Sistemik : Valacyclovir tablet 2 gr sekali minum dalam 1 hari yang diberikan begitu gejala muncul, diulang pada 12 jam kemudian, atau Acyclovir tablet 400 mg 5 kali sehari selama 5 hari, atau Famciclovir 1500 mg dosis tunggal yang diminum 1 jam setelah munculnya gejala prodromal.



b)      Infeksi Rekuren
Terapi rekuren ditujukan untuk mengurangi angka kekambuhan dari herpes genitalis, dimana tingkat kekambuhan berbeda pada tiap individu, bervariasi dari 2 kali/tahun hingga lebih dari 6 kali/tahun. Terdapat 2 macam terapi dalam mengobati infeksi rekuren, yaitu terapi episodik dan terapi supresif.
Ø  Terapi Episodik:
·         Acycovir, 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg 2 x/hr, 5 hr, atau 800 mg p.o 3 x/hr,3 hr
·         Valacyclovir, 500 mg p.o 2 x/hr 3 hr, atau 1 gr p.o 1x/hr, 5 hr
·         Famciclovir, 125 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 2 x/hr,1 hr
Ø  Terapi Supresif:
·         Acyclovir 400 mg p.o 2 x/hr selama 6 th, atau
·         Famciclovir 250 mg p.o 2 x/hr selama 1 th, atau
·         Valacyclovir 500 mg p.o 1x/hr selama 1 th, atau
·         Valacyclovir 1 gr p.o 1x/hr selama 1 th

2.      Terapi Non-Spesifik;
Pengobatan non-spesifik ditujukan untuk memperingan gejala yang timbul berupa nyeri dan rasa gatal. Rasa nyeri dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian analgetik, antipiretik dan antipruritus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Zat-zat pengering yang bersifat antiseptic juga dibutuhkan untuk lesi yang basah berupa jodium povidon secara topical untuk mengeringkan lesi, mencegah infeksi sekunder dan mempercepat waktu penyembuhan. Selain itu pemberian antibiotic atau kotrimoksasol dapat pula diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.
Tujuan dari terapi tersebut masing-masing adalah untuk mempercepat proses penyembuhan, meringankan gejala prodromal, dan menurunkan angka penularan.

Kesimpulan kelompok :
      Penatalaksanaan yang dapat dilakukan pada penyakit herpes zooster berupa terapi spesifik dan therapi non-spesifik.

I.       ASUHAN KEPERAWATAN
a.      Pengkajian
1.      Biodata
Mencantumkan identitas klien : umur, jenis kelamin, pekerjaan,dll.
2.      Keluhan utama
Alasan yang sering membawa klien penderita herpes datang berobat adalah nyeri pada daerah terdapatnya vesikel berkelompok / lesi yang timbul.
3.      Riwayat penyakit sekarang
Biasanya, klien mengeluh sudah beberapa hari demam dan timbul rasa gatal / nyeri pada dermatom yang terserang. Pada daerah yang terserang, mula – mula timbul papula berbentuk urtika, setelah 1 – 2 hari timbul gerombolan vesikula. Kembangkan pola PQRST pada setiap keluhan klien. 
4.      Riwayat penyakit keluarga
Biasanya, keluarga atau teman dekat ada yang menderita penyakit herpes, atau klien pernah kontak dengan penderita / terinfeksi virus ini.
5.      Riwayat psikososial
Perlu dikaji bagaimana konsep diri klien terutama tentang gambaran diri / citra diri dan harga diri. Disamping itu, perlu dikaji tingkat kecemasan klien dan informasi / pengetahuan yang dimiliki tentang penyakit.
6.      Kebutuhan sehari – hari
Perlu dikaji juga tentang pola tidur, aktivitas. Penyakit ini sering diderita oleh klien yang mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan dan menggunakan alat-alat pribadi secara bersama-sama.


7.      Pemeriksaan fisik 
Inspeksi : kulit ditemukan adanya vesikel berkelompok (tanda yang khas pada herper zoster). Kadang ditemukan vesikel yang berisi nanah dan darah disebut herpes zoster hemoragic. Dapat ditemukan edema disekitar lesi, dan dapat pula timbul ulkus pada infeksi sekunder.

b.      Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
2.      Kerusakan integritas kulit b.d deficit imunologis ( respon peradangan / lesi )
3.      Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
4.      Resiko infeksi b.d pemajanan melalui kontak ( langsung / tidak langsung )

c.       Intervensi
Dx. I Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
NOC : Tingkat Nyeri
Kriteria Hasil :
• Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah
• Perubahan dalam TTV
• Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
• Melaporkan kenyamanan fisik maupun psikologis

NIC : Penatalaksanaan nyeri
Intervensi :
1. kaji nyeri secara komphrehensif
2. observasi ketidaknyamanan non verbal
3. berikan informasi tentang nyeri
4. ajarkan teknik non farmakologi ( relaksasi, distraksi, terapi musik )
5. kendalikan factor lingkungan yang mempengaruhi respon pasien.



Dx. II Kerusakan integritas kulit b.d deficit imunologis ( respon peradangan / lesi )
NOC : Tissue Integrity
Kriteria Hasil :
• Integritas kulit bias dipertahankan
• Berkurangnya luka / lesi pada kulit
• Perfusi jaringan baik
• Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kulit
• Perawatan alami

NIC : Pressure Management
Intervensi :
1. anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian longgar
2. hindari kerutan pada tempat tidur
3. jaga kebersihan kulit agar tetaap bersih dan kering
4. mobilisasi pasien secara teratur
5. monitor kulit akan adanya kemerahan

Dx. III Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
NOC : Citra tubuh
Kriteria Hasil :
• Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh, dan wujud tubuh
• Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh
• Mengidentifikasi kekuatan personal
• Memelihara hubungan social yang dekat dan hubungan personal

Intervensi :
1. pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri
2. ajarkan keluarga pentingnya respon mereka terhadap peubahan tubuh
3. dengarkan pasien / keluarga secara aktif
4. beri dorongnan kepada pasien / keluarga untuk mengungkapkan perasaan
5. berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, peihara privasi.

Dx. IV Resko Infeksi b.d pemajanan melalaui kontak ( langsung / tidak langsung )
NOC : Pengendalian Infeksi
Kriteria Hasil :
• Memantau factor resiko lingkungan dan perilaju seseorang
• Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
• Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
• Melaporkn tanda dan gejala infeksi

NIC : Pengendalian Infeksi
Intervensi :
1. pantau tanda / gejala infeksi
2. ajarkan pasien / pengunjung untuk mencuci tangan dengn benar
3. ajarkan pasien dan keluarga kapan harus melaporkan tanda / gejala infeksi
4. batasi jumlah pengunjung, bila diperlukan.

J.      Konsep Legal dan Etik
a.       Prinsip Etik
1.      Respect (Hak untuk dihormati)
Perawat harus menghargai hak-hak pasien/klien.
2.      Autonomy (hak pasien memilih)
Hak pasien untuk memilih treatment terbaik untuk dirinya.
3.      Beneficence (Bertindak untuk keuntungan orang lain/pasien)
Kewajiban untuk melakukan hal tidak membahayakan pasien/orang laindan secara aktif berkontribusi bagi kesehatan dan kesejahteraan pasiennya.
4.      Non-Maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain)
Kewajiban perawat untuk tidak dengan sengaja menimbulkan kerugianatau cidera. Prinsip : Jangan membunuh, menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau penderitaan pada orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang lain.


5.      Confidentiality (hak kerahasiaan)
Menghargai kerahasiaan terhadap semua informasi tentang pasien/klienyang dipercayakan pasien kepada perawat.
6.      Justice (keadilan)
Kewajiban untuk berlaku adil kepada semua orang. Perkataan adil sendiriberarti tidak memihak atau tidak berat sebelah.
7.      Fidelity (loyalty/ketaatan)
·         Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan bertanggungjawabterhadap kesepakatan yang telah diambil.
·         Era modern, pelayanan kesehatan : Upaya Tim (tanggungjawab tidakhanya pada satu profesi). 80% kebutuhan dipenuhi perawat.
·         Masing-masing profesi memiliki aturan tersendiri yang berlaku.
·         Memiliki keterbatasan peran dan berpraktik dengan menurut aturan yangdisepakati.
8.      Veracity (Truthfullness & honesty)
·         Kewajiban untuk mengatakan kebenaran.
·         Terkait erat dengan prinsip otonomi, khususnya terkait informed-consent
·         Prinsip veracity mengikat pasien dan perawat untuk selalu mengutarakankebenaran



BAB IV
PENUTUP

A.    Kesimpulan
Herpes zooster adalah radang kulit akut dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang tersusun kelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya unilateral. (Purrawan Juradi, 1982 : 510). Herpes zooster disebabkan oleh virus varicella zooster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA dengan masa inkubasi 14–21 hari. Faktor resiko pada penyakit herpes zooster diantaranya : usia lebih dari 50 tahun, orang yang mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukimia, orang dengan terapi radiasi dan kemoterapi dan orang dengan transplantasi organ mayor seperti transplantasi sumsum tulang. Adapun faktor pencetus kambuhnya herpes zooster diantaranya : kelelahan, stress, dsb. Pemeriksaan diagnostik yang dapat dilakukan pada penyakit herpes zooster diantaranya : deteksi antibody terhadap infeksi virus, kultur virus, kultur dari cairan vesikel dan tes antibody, mengidentifikasi varicella di sel kulit, dsb. Pengobatan pada penyakit herpes zooster diantaranya : Aciclovir, imun globulin varicella-khusus (V-Zig), vaksinasi.
Menurut kelompok, kami menyimpulkan dari tanda dan gejala pada kasus pemicu 1 menunjukkan bahwa Ny. R menderita penyakit kulit dengan kasus penyakit Herpes Zooster. Pada kasus ini juga kami  menyimpulkan bahwa Ny. R terkena herpes zooster dengan klasifikasi herpes zooster torakalis. Klasifikasi tersebut ditandai dengan adanya bintik-bintik berisi air yang berada pada bagian torakal anterior dextra dekat sternum dan thorakal posterior dekat dengan aksila dextra. Kelompok kami pun menyimpulkan prioritas diagnosa keperawatan yaitu kerusakan integritas kulit berhubungan dengan penurunan imunologi ditandai dengan kerusakan lapisan kulit, nyeri akut berhubungan dengan reaksi biologis ditandai dengan indikasi nyeri yang dapat diamati, resiko infeksi ditandai dengan pertahanan tubuh primer yang tidak adekuat.

B.     Kritik dan Saran
Ø  Makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Ø  Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa/i Fakultas Kesehatan Prodi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tangerang.