BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Kulit adalah jaringan yang
selama ini kurang diperhatikan oleh sebagian besar orang dan mereka baru
menyadari betapa pentingnya kulit pada anggota tubunya sendiri padahal kulit mempunyai
peranan yang sangat penting. Ada beberapa penyakit kulit yang menyebabkan gatal
dan ketidaknyamanan untuk jangka waktu lama dan dapat menyebabkan kegagalan fungsi kulit.
Infeksi virus varicella-zoster (VVZ) yang menyebabkan
varisela atau cacar air dapat menyerang hampir setiap individu di seluruh
dunia. Setelah sembuh dari varisela, virus menetap laten pada ganglia radiks
dorsalis yang dapat mengalami reaktivasi menjadi herpes zoster (HZ), atau yang
lebih dikenal dengan nama shingles atau dompo. Herpes zoster merupakan
penyakit kulit yang bercirikan timbulnya ruam kulit dengan distribusi
dermatomal dan disertai rasa nyeri yang hebat (Christo, 2007).
Insiden herpes zoster tersebar merata di seluruh dunia dan
dapat muncul
sepanjang
tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim. Tidak ada perbedaan dalam morbiditas
antara pria dan wanita. Berdasarkan studi di Eropa dan Amerika Utara, diperkirakan
ada sekitar 1,5-3 per 1000 orang per tahun pada segala usia dan kejadian meningkat
tajam pada usia lebih dari 60 tahun yaitu sekitar 7-11 per 1000 orang per tahun
(Gnann dan Whitley, 2002). Insiden herpes zoster meningkat seiring bertambahnya
usia, di mana lebih dari 2/3 kasus terjadi pada usia lebih dari 50 tahun dan
kurang dari 10% di bawah 20 tahun (Schmader & Oxman, 2012).
Meningkatnya
insidensi pada usia lanjut ini berkaitan dengan menurunnya respon imun
dimediasi sel yang dapat pula terjadi pada pasien imunokompromais seperti
pasien HIV-AIDS, pasien dengan keganasan, dan pasien yang mendapat obat
imunosupresi. Namun, insidensinya pada pasien imunokompeten pun besar. Herpes
zoster sendiri meskipun bukan penyakit yang life-threatening, namun
dapat menggangu pasien sebab dapat timbul rasa nyeri. Lebih lanjut lagi nyeri
yang dialami saat timbul lesi kulit dapat bertahan lama, hingga berbulan-bulan
lamanya sehingga dapat menggangu kualitas hidup pasien – suatu keadaan yang
disebut dengan neuralgia paska herpetika (NPH) (Johnson, 2009).
Tujuan
utama terapi pada pasien herpes zoster adalah untuk membatasi
berkembangnya
penyakit, durasi dan peningkatan rasa sakit dan lesi di dermatom primer,
mencegah penyakit di tempat lain, dan mencegah NPH (Prabhu, 2009).
Melihat dari prevalensi tersebut,
maka kelompok tertarik untuk membahas makalah tentang penyakit pada kulit yaitu
Herpes Zooster karena sering terjadi pada masyarakat luas.
B. Tujuan Penulisan
Tujuan penulisan makalah
terdiri dari :
Ø Tujuan Umum :
Untuk memenuhi tugas mata pelajaran sistem
integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster.
Ø
Tujuan
Khusus
:
-
Mengetahui pengertian herpes zooster
-
Mengetahui penyebab herpes zooster
-
Mengetahui tanda dan gejala herpes
zooster
-
Mengetahui klasifikasi herpes zooster
-
Mengetahui patofisiologi herpes zooster
-
Mengetahui pemeriksaan penunjang herpes
zooster
-
Mengetahui asuhan keperawatan herpes
zooster sesuai literatur
-
Mengetahui asuhan keperawatan herpes
zooster sesuai kasus
-
Mengetahui etik dan legal dalam keperawatan
integumen
C.
Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan makalah ini membahas tentang sistem
integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster.
D.
Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah
ini terdiri dari Bab I Pendahuluan, berisi : latar belakang, tujuan
penulisan, ruang lingkup
penulisan dan sistematika
penulisan ; Bab II Tinjauan Teoritis, berisi : tentang sistem integumen dengan
asuhan keperawatan pada klien herpes zooster ; Bab III Tinjauan Kasus, berisi :
tentang sistem integumen dengan asuhan keperawatan pada klien herpes zooster ; Bab IV Penutup, berisi : kesimpulan dan saran.
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A.
Definisi
Herpes Zoster adalah radang kulit akut dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang tersusun kelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya unilateral. (PurrawanJuradi, 1982 : 510).
Herpes
Zoster adalah infeksi yang dialami mereka yang tidak mempunya kekebalan
terhadap varicella (misalnya mereka yang sebelumnya tidak terinfeksi oleh
varicella dalam bentuk cacar air) (Brunner & Suddart Edisi 8,Vol 3)
Epidemiologi
Herpes
zoster dapat muncul disepanjang tahun karena tidak dipengaruhi oleh musim dan
tersebar merata di seluruh dunia, tidak ada perbedaan angka kesakitan antara
laki-laki dan perempuan, angka kesakitan meningkat dengan peningkatan usia. Di
negara maju seperti Amerika, penyakit ini dilaporkan sekitar 6% setahun, di
Inggris 0,34% setahun sedangkan di Indonesia lebih kurang 1% setahun. Herpes
zoster terjadi pada orang yang pernah menderita varisela sebelumnya karena
varisela dan herpes zoster disebabkan oleh virus yang sama yaitu virus varisela
zoster. Setelah sembuh dari varisela, virus yang ada di ganglion sensoris tetap
hidup dalam keadaan tidak aktif dan aktif kembali jika daya tahan tubuh
menurun. Lebih dari 2/3 usia di atas 50 tahun dan kurang dari 10% usia di bawah
20 tahun. Kurnia Djaya pernah melaporkan kasus hepes zoster pada bayi usia 11
bulan.
Kesimpulan kelompok :
Herpes
zooster adalah radang kulit yang disebabkan oleh virus varicella yang merupakan
penyakit kelanjutan dari cacar air.
B.
Etiologi
Herpes
Zoster disebabkan oleh virus varicella zoster (VVZ) dan tergolong virus berinti
DNA. Virus ini berukuran 140-200 nm, yang termasuk subfamily alfa herpes
viridae. Berdasarkan sifat biologis nya seperti siklus replikasi, penjamu,
sifat sitotoksik dan sel tempat hidup laten diklasifikasikan kedalam 3 subfamily
yaitu alfa, beta, dan gama.Masa
inkubasinya 14–21 hari.
a) Faktor Resiko Herpes zoster
1. Usia lebih dari 50 tahun, infeksi
ini sering terjadi pada usia ini akibat daya tahan tubuhnya melemah. Makin tua
usia penderita herpes zoster makin tinggi pula resiko terserang nyeri.
2. Orang yang mengalami penurunan
kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukimia. Adanya lesi pada ODHA
merupakan manifestasi pertama dari immunocompromised.
3. Orang dengan terapi radiasi dan
kemoterapi.
4. Orang dengan transplantasi organ
mayor seperti transplantasi sumsum tulang.
b) Factor pencetus kambuhnya Herpes
zoster
1. Trauma / luka
2. Kelelahan
3. Demam
4. Alkohol
5. Gangguan pencernaan
6. Obat – obatan
7. Sinar ultraviolet
8. Haid
9. Stress
Secara umum, penyebab dari
terjadinya herpes simpleks ini adalah sebagai berikut:
1. Herpes Virus Hominis (HVH).
2. Herpes Simplex Virus (HSV)
3. Varicella Zoster Virus (VZV)
4. Epstein Bar Virus (EBV)
5. Citamoga lavirus (CMV)
Namun yang paling sering herpes
simpleks disebabkan oleh virus herpes simpleks tipe I dan tipe II. Cara
penularan melalui hubungan kelamin, tanpa melalui hubungan kelamin seperti :
melalui alat-alat tidur, pakaian, handuk,dll atau sewaktu proses
persalinan/partus pervaginam pada ibu hamil dengan infeksi herpes pada alat
kelamin luar.
Perbedaan HSV tipe I dengan tipe II
HSV tipe
I
|
HSV tipe
II
|
|
Predileksi
|
Kulit dan
mukosa di luar
|
Kulit dan mukosa daerah genetalia
dan perianal
|
Kultur pada chorioallatoic membran
(CAM) dari telur
ayam
|
Membentuk bercak kecil
|
Membentuk pock besar dan tebal
|
Serologi
|
Antibodi terhadap HSV tipe I
|
Antibodi terhadap HSV tipe II
|
Sifat lain
|
Tidak bersifat onkogeni
|
Bersifat onkogeni
|
Faktor pencetus replikasi virus
penyebab herpes simpleks :
a)
Herpes oro-labial.
- Suhu dingin.
- Panas sinar matahari.
- Penyakit infeksi (febris).
- Kelelahan.
- Menstruasi.
b)
Herpes Genetalis
-
Faktor
pencetus pada herpes oro-labial.
-
Hubungan
seksual.
-
Makanan
yang merangsang.
-
Alcohol.
c)
Keadaan yang menimbulkan penurunan daya tahan tubuh:
-
Penyakit
DM berat.
-
Kanker.
-
HIV.
-
Obat-obatan
(Imunosupresi, Kortikosteroid).
-
Radiasi.
Kesimpulan kelompok :
Penyebab herpes zooster adalah
virus varicella zooster yang bisa terjadi pada siapa saja yang mengalami
penurunan immunitas tubuh, tidak pernah vaksinasi cacar pada masa balita dan
personal hygiene yang kurang. Herpes zooster dapat ditularkan melalui udara dan
kontak langsung dengan penderita. Masa inkubasi penyakit ini selama 10-21 hari.
C.
Tanda dan gejala
a.
Gejala prodromal
1.
Keluhan biasanya diawali dengan gejala prodomal yang berlangsung selama 1 – 4 hari.
2.
Gejala yang
mempengaruhi tubuh : demam, sakit kepala,
fatigue, malaise, nusea, rash, kemerahan, sensitive, sore skin ( penekanan kulit), nyeri, (rasa terbakar atau tertusuk),
gatal dan kesemutan.
3.
Nyeri bersifat segmental dan dapat berlangsung terus – menerus atau hilang timbul.
Nyeri juga bias terjadi selama erupsi kulit.
4.
Gejala yang
mempengaruhi mata :
Berupa kemerahan, sensitive terhadap cahaya, pembengkakan kelopak mata. Kekeringan mata,
pandangan kabur,
penurunan sensasi penglihatan dan lain –
lain.
b.
Timbul erupsi kulit
1.
Kadang terjadi limfa denopati regional
2.
Erupsi kulit hamper selalu unilateral dan biasanya terbatas pada daerah yang dipersarafi oleh satu
ganglion sensorik. Erupsi dapat terjadi di
seluruh bagian tubuh, yang tersering di daerah ganglion torakalis.
3.
Lesi dimulai dengan
macula eritroskuamosa, kemudian terbentuk papul –
papul dan dalam waktu 12 –
24 jam lesi berkembang menjadi vesikel.
Pada hari ketiga berubah menjadi pastul yang
akan mongering menjadi krusta dalam 7 – 10 hari. Krusta dapat bertahan sampai 2 – 3 minggu kemudian mengelupas.
Pada saat ini nyeri
segmental juga menghilang.
4.
Lesi baru dapat terus muncul sampai hari ke – 4 dan kadang –
kadang sampai hari ke 7
5.
Erupsi kulit yang berat dapat meninggalkan macula hiperpigmentasi dan jaringan parut (pitted scar)
6.
Pada lansia biasanya mengalami lesi yang
lebih parah dan mereka lebih sensitive terhadap nyeri yang dialami.
Kesimpulan kelompok :
Tanda gejala pada herpes
zooster biasanya penderita mengalami demam, nyeri, gatal-gatal pada kulit dan
terasa panas pada bintil-bintil kemerahan yang ada di kulit.
D.
Klasifikasi
1.
Herpes zoster oftalmikus
Herpes zoster oftalmikus merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gas seri yang menerima serabut saraf dari cabang ophtalmicus saraf trigeminus
(N.V), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.Infeksi diawali dengan nyeri kulit pada satu sisi kepala dan wajah disertai gejala konstitusi seperti lesu, demam ringan. Gejala
prodromal berlangsug 1 sampai 4 hari sebelum kelaina nkulit timbul. Fotofobia, banyak keluar air mata, kelopak mata bengkak dan sukar dibuka.
![]() |
| Add caption |
Gambar 1.Herpes zoster oftalmikus sinistra.
2. Herpes zoster fasialis
Herpes zoster fasialis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai bagian ganglion gas seri yang menerima serabut saraf fasialis
(N.VII), ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 2.Herpes zoster fasialis dekstra.
3. Herpes zoster brakialis
Herpes zoster brakialis merupakan infeksi virus herpes
zoster yang mengenai pleksus brakialis yang ditandai erupsi herpetik unilateral pada kulit.

Gambar 3.Herpes zoster brakialis sinistra.
4.
Herpes zoster torakalis
Herpes zoster torakalis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus torakalis yang ditandai erupsi herpetik
unilateral pada kulit.

Gambar 4.Herpes zoster torakalis sinistra.
5.
Herpes zoster lumbalis
Herpes zoster lumbalis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus lumbalis yang ditandai erupsi herpetik unilateral
pada kulit.
6.
Herpes zoster sakralis
Herpes zoster sakralis merupakan infeksi virus
herpes zoster yang mengenai pleksus sakralis yang ditandai erupsi herpetik
unilateral pada kulit.

Gambar 6.Herpes zoster sakralis dekstra.
Kesimpulan kelompok :
Kelompok
menyimpulkan pada kasus yang kami dapat merupakan herpes zooster torakalis
karena terjadi di daerah thorakal anterior dextra dan thorakalis posterior
dekat axila dextra.
E.
Patofisiologi
Sesudah
seseorang menderita cacar air, virus verisela- zoester yang diyakini sebagai
penyebab terjadinya penyakit ini hidup secara inaktif (dorman) di dalam sel-sel
saraf di deket otak dan medulla spinalis. Kemudian hari ketika virus yang laten
ini mengalami reaktivitas, virus tersebut berjalan lewat saraf perifer ke
kulit. Virus varicella yang dorman di aktifkan dan timbul vesikel-vesikel
meradang unilateral di sepanjang satu dermatom. Kulit di sekitarnya mengalami
edema dan pendarahan. Keadaan biasanya di dahului atau di sertai nyeri hebat
dan atau rasa terbakar. Meskipun setiap saraf dapat terkena, tetapi saraf
thorakal, lumbal, atau kranial agaknya sering terserang. Herpes zoster dapat
berlangsung selama kurang lebih 3 minggu.
Adanya
keterlibatan saraf perifer secara local memberikan respon nyeri, kerusakan integritas
jaringan terjadi akibat adanya vesikula. Respon sistemik memberikan manifestasi
peningkatan suhu tubuh, perasaan tidak enak badan, dan gangguan
gastrointestinal. Respon psikologis pada kondisi adanya lesi pada kulit
memberikan kecemasan dan gangguan gambaran diri.
Kesimpulan kelompok :
Virus varicella masuk ke dalam
tubuh pada saat tubuh dalam penurunan imunitas, sehingga virus tersebar di
dalam tubuh menimbulkan tiga respon yaitu
1.
Respon inflamasi lokal yang menyebabkan kerusakan
perifer dan menimbulkan nyeri dan kerusakan integritas kulit
2.
Respon inflamasi sistemik yang menimbulkan gangguan
gastrointestinal yaitu mual dan anoreksia
3.
Respon psikologis yang mengakibatkan kondisi kerusakan
jaringan kulit.
F.
Komplikasi
a.
Neuralgia pasca herpes
Ini adalah kompolasi paling umum,
nyeri syaraf (neuralgia) akibat herpes zoster ini tetap bertahan setelah
lepuhan kulit menghilang. Masalah ini jarang terjadi pada orang yang dibawah 50
tahun, rasa nyeri biasanya secara bertahap menghilang dalam 1 bulan tetapi pada
beberapa orang dapat berlangsung berbulan-bulan bila tanpa pengobatan.
b.
Infeksi Kulit
Kadang lepuhan terinfeksi oleh
bakteri sehingga kulit disekitarnya menjadi merah meradang. Jika hal ini
terjadi maka diperlukan antibiotik.
c.
Mata
Herpes zozter pada mata dapat
menyebabkan peradanagn sebagian atau seluruh bagian mata yang mengancam
penglihatan.
d.
Kelemahan atau layu otot
Kadang-kadang syaraf yang tekena
dampak adalah syaraf motorik dan sensorik yang sensitif. Hal ini dapat
menimbulkan kelemahan pada otot-otot yang dikontrol oleh syaraf.
e.
Komplikasi lain
Misalnya, infeksi oleh virus
varicella zoster, atau penyebaran virus keseluruh tubuh ini adalah komplikasi
yang sanagt serius tapi jarang terjadi pada penderita herpes zoster dengan
sistem kekebalan tubuh yang melemah.
Kesimpulan
kelompok :
Komplikasi pada herpes zooster
meliputi neuralgia, infeksi kulit, mata dan kelemahan otot
G.
Pemeriksaan
Diagnostik
Tujuan dari
pemeriksaan dagnostik adalah dilakukan untuk membedakan dari impetigo, kontak
dermatitis dan herpes simpleks. Pemeriksaan diagnostik yang dilakukan meliputi beberapa hal :
1.
Tzanck Smear : mengidentifikasi virus herpes tetapi
tidak dapat membedakan herpes zoster
dan herpes simplex.
2.
Kultur dari cairan vesikel dan tes antibody :
digunakan untuk membedakan diagnosis herpes virus.
3.
Immunofluororescent : mengidentifikasi varicella di
sel kulit.
4.
Pemeriksaan histopatologik.
5.
Pemerikasaan mikroskop electron.
6.
Kultur virus.
7.
Identifikasi anti gen / asam nukleat VVZ.
8.
Deteksi antibody terhadap infeksi virus
Kesimpulan
kelompok :
Pemeriksaan
diagnostik yang dapat dilakukan pada penyakit herpes zooster
terdapat 8 jenis pemeriksaan.
H.
Penatalaksanaan
Penatalaksanaan
Herpes zoster
a.
Pengobatan
1)
Pengobatan topical
·
Pada stadium vesicular diberi bedak salicyl 2% atau bedak
kocok kalamin untuk mencegah vesikel pecah
·
Bila vesikel pecah dan basah, diberikan kompres
terbuka dengan larutan antiseptik atau kompres dingin dengan larutan burrow 3 x
sehari selama 20 menit
·
Apabila lesi berkrusta dan agak basah dapat diberikan
salep antibiotik (basitrasin / polysporin ) untuk mencegah infeksi sekunder
selama 3 x sehari.
2)
Pengobatan sistemik
·
Drug of choice- nya adalah acyclovir yang dapat
mengintervensi sintesis virus dan replikasinya. Meski tidak menyembuhkan
infeksi herpes namun dapat menurunkan keparahan penyakit dan nyeri. Dapat
diberikan secara oral, topical atau parenteral. Pemberian lebih efektif pada
hari pertama dan kedua pasca kemunculan vesikel. Namun hanya memiliki efek yang
kecil terhadap postherpetic neuralgia.
·
Antiviral lain yang dianjurkan adalah vidarabine (Ara
– A, Vira – A) dapat diberikan lewat infus intravena atau salep mata.
·
Kortikosteroid dapat digunakan untuk menurunkan respon
inflamasi dan efektif namun penggunaannya masih kontroversi karena dapat
menurunkan penyembuhan dan menekan respon immune.
·
Analgesik non narkotik dan narkotik diresepkan untuk
manajemen nyeri dan antihistamin diberikan untuk menyembuhkan priritus.
b.
Penderita dengan keluhan mata
Keterlibatan seluruh mata atau ujung
hidung yang menunjukan hubungan dengan cabang nasosiliaris nervus optalmikus,
harus ditangani dengan konsultasi opthamologis. Dapat diobati dengan salaep
mata steroid topical dan mydriatik, anti virus dapat diberikan
c.
Neuralgia Pasca Herpes zoster
·
Bila nyeri masih terasa meskipun sudah diberikan
acyclovir pada fase akut, maka dapat diberikan anti depresan trisiklik (
misalnya : amitriptilin 10 – 75 mg/hari)
·
Tindak lanjut ketat bagi penanganan nyeri dan dukungan
emosional merupakan bagian terpenting perawatan
·
Intervensi bedah atau rujukan ke klinik nyeri
diperlukan pada neuralgi berat yang tidak teratasi.
Pada
prinsipnya, penanganan dari infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) ada 2 macam,
yaitu:
1.
Terapi Spesifik;
a)
Infeksi primer
·
Topikal : Penciclovir krim 1% (tiap 2 jam selama 4
hari) atau Acyclovir krim 5% (tiap 3 jam selama 4 hari). Idealnya, krim ini
digunakan 1 jam setelah munculnya gejala, meskipun juga pemberian yang
terlambat juga dilaporkan masih efektif dalam mengurangi gejala serta membatasi
perluasan daerah lesi. (Rekomendasi FDA & IHMF)
·
Sistemik : Valacyclovir tablet 2 gr sekali minum dalam
1 hari yang diberikan begitu gejala muncul, diulang pada 12 jam kemudian, atau
Acyclovir tablet 400 mg 5 kali sehari selama 5 hari, atau Famciclovir 1500 mg
dosis tunggal yang diminum 1 jam setelah munculnya gejala prodromal.
b)
Infeksi Rekuren
Terapi rekuren ditujukan untuk
mengurangi angka kekambuhan dari herpes genitalis, dimana tingkat kekambuhan
berbeda pada tiap individu, bervariasi dari 2 kali/tahun hingga lebih dari 6
kali/tahun. Terdapat 2 macam terapi dalam mengobati infeksi rekuren, yaitu
terapi episodik dan terapi supresif.
Ø Terapi
Episodik:
·
Acycovir, 400 mg p.o 3 x/hr, 5 hr, atau 800 mg 2 x/hr,
5 hr, atau 800 mg p.o 3 x/hr,3 hr
·
Valacyclovir, 500 mg p.o 2 x/hr 3 hr, atau 1 gr p.o
1x/hr, 5 hr
·
Famciclovir, 125 mg p.o 2 x/hr,5 hr, atau 1 gr p.o 2
x/hr,1 hr
Ø Terapi
Supresif:
·
Acyclovir 400 mg p.o 2 x/hr selama 6 th, atau
·
Famciclovir 250 mg p.o 2 x/hr selama 1 th, atau
·
Valacyclovir 500 mg p.o 1x/hr selama 1 th, atau
·
Valacyclovir 1 gr p.o 1x/hr selama 1 th
2.
Terapi Non-Spesifik;
Pengobatan non-spesifik ditujukan
untuk memperingan gejala yang timbul berupa nyeri dan rasa gatal. Rasa nyeri
dan gejala lain bervariasi, sehingga pemberian analgetik, antipiretik dan
antipruritus disesuaikan dengan kebutuhan individu. Zat-zat pengering yang
bersifat antiseptic juga dibutuhkan untuk lesi yang basah berupa jodium povidon
secara topical untuk mengeringkan lesi, mencegah infeksi sekunder dan
mempercepat waktu penyembuhan. Selain itu pemberian antibiotic atau
kotrimoksasol dapat pula diberikan untuk mencegah infeksi sekunder.
Tujuan dari terapi tersebut
masing-masing adalah untuk mempercepat proses penyembuhan, meringankan gejala
prodromal, dan menurunkan angka penularan.
Kesimpulan
kelompok :
Penatalaksanaan
yang dapat dilakukan pada penyakit herpes zooster berupa terapi spesifik dan
therapi non-spesifik.
I. ASUHAN KEPERAWATAN
a.
Pengkajian
1. Biodata
Mencantumkan identitas klien : umur,
jenis kelamin, pekerjaan,dll.
2. Keluhan
utama
Alasan yang sering membawa
klien penderita herpes datang berobat adalah nyeri pada daerah terdapatnya
vesikel berkelompok / lesi yang timbul.
3. Riwayat
penyakit sekarang
Biasanya, klien
mengeluh sudah beberapa hari demam dan timbul rasa gatal / nyeri pada dermatom
yang terserang. Pada daerah yang terserang, mula – mula timbul papula berbentuk
urtika, setelah 1 – 2 hari timbul gerombolan vesikula. Kembangkan pola PQRST
pada setiap keluhan klien.
4. Riwayat
penyakit keluarga
Biasanya, keluarga atau
teman dekat ada yang menderita penyakit herpes, atau klien pernah kontak dengan
penderita / terinfeksi virus ini.
5. Riwayat
psikososial
Perlu dikaji bagaimana
konsep diri klien terutama tentang gambaran diri / citra diri dan harga diri.
Disamping itu, perlu dikaji tingkat kecemasan klien dan informasi / pengetahuan
yang dimiliki tentang penyakit.
6. Kebutuhan
sehari – hari
Perlu dikaji juga
tentang pola tidur, aktivitas. Penyakit ini sering diderita oleh klien yang
mempunyai kebiasaan melakukan hubungan seksual dengan berganti-ganti pasangan
dan menggunakan alat-alat pribadi secara bersama-sama.
7. Pemeriksaan
fisik
Inspeksi : kulit
ditemukan adanya vesikel berkelompok (tanda yang khas pada herper zoster).
Kadang ditemukan vesikel yang berisi nanah dan darah disebut herpes zoster
hemoragic. Dapat ditemukan edema disekitar lesi, dan dapat pula timbul ulkus
pada infeksi sekunder.
b. Diagnosa Keperawatan
1.
Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
2.
Kerusakan integritas kulit b.d deficit
imunologis ( respon peradangan / lesi )
3.
Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
4.
Resiko infeksi b.d pemajanan melalui
kontak ( langsung / tidak langsung )
c.
Intervensi
Dx. I Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
NOC : Tingkat Nyeri
Kriteria Hasil :
• Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah
• Perubahan dalam TTV
• Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
• Melaporkan kenyamanan fisik maupun psikologis
Dx. I Nyeri akut b.d inflamasi jaringan
NOC : Tingkat Nyeri
Kriteria Hasil :
• Ekspresi nyeri lisan atau pada wajah
• Perubahan dalam TTV
• Menunjukkan teknik relaksasi yang efektif
• Melaporkan kenyamanan fisik maupun psikologis
NIC : Penatalaksanaan nyeri
Intervensi :
1. kaji nyeri secara komphrehensif
2. observasi ketidaknyamanan non verbal
3. berikan informasi tentang nyeri
4. ajarkan teknik non farmakologi ( relaksasi, distraksi, terapi musik )
5. kendalikan factor lingkungan yang mempengaruhi respon pasien.
Intervensi :
1. kaji nyeri secara komphrehensif
2. observasi ketidaknyamanan non verbal
3. berikan informasi tentang nyeri
4. ajarkan teknik non farmakologi ( relaksasi, distraksi, terapi musik )
5. kendalikan factor lingkungan yang mempengaruhi respon pasien.
Dx. II Kerusakan integritas kulit
b.d deficit imunologis ( respon peradangan / lesi )
NOC : Tissue Integrity
Kriteria Hasil :
• Integritas kulit bias dipertahankan
• Berkurangnya luka / lesi pada kulit
• Perfusi jaringan baik
• Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kulit
• Perawatan alami
NOC : Tissue Integrity
Kriteria Hasil :
• Integritas kulit bias dipertahankan
• Berkurangnya luka / lesi pada kulit
• Perfusi jaringan baik
• Mampu melindungi kulit dan memepertahankan kulit
• Perawatan alami
NIC : Pressure Management
Intervensi :
1. anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian longgar
2. hindari kerutan pada tempat tidur
3. jaga kebersihan kulit agar tetaap bersih dan kering
4. mobilisasi pasien secara teratur
5. monitor kulit akan adanya kemerahan
Intervensi :
1. anjurkan pasien untuk mengenakan pakaian longgar
2. hindari kerutan pada tempat tidur
3. jaga kebersihan kulit agar tetaap bersih dan kering
4. mobilisasi pasien secara teratur
5. monitor kulit akan adanya kemerahan
Dx.
III Gangguan citra tubuh b.d perubahan penampilan
NOC : Citra tubuh
Kriteria Hasil :
• Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh, dan wujud tubuh
• Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh
• Mengidentifikasi kekuatan personal
• Memelihara hubungan social yang dekat dan hubungan personal
NOC : Citra tubuh
Kriteria Hasil :
• Kongruen antara realitas tubuh, ideal tubuh, dan wujud tubuh
• Kepuasan terhadap penampilan dan fungsi tubuh
• Mengidentifikasi kekuatan personal
• Memelihara hubungan social yang dekat dan hubungan personal
Intervensi :
1. pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri
2. ajarkan keluarga pentingnya respon mereka terhadap peubahan tubuh
3. dengarkan pasien / keluarga secara aktif
4. beri dorongnan kepada pasien / keluarga untuk mengungkapkan perasaan
5. berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, peihara privasi.
Dx. IV Resko Infeksi b.d pemajanan melalaui kontak ( langsung / tidak langsung )
NOC : Pengendalian Infeksi
Kriteria Hasil :
• Memantau factor resiko lingkungan dan perilaju seseorang
• Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
• Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
• Melaporkn tanda dan gejala infeksi
1. pantau frekuensi pernyataan yang mengkritik diri
2. ajarkan keluarga pentingnya respon mereka terhadap peubahan tubuh
3. dengarkan pasien / keluarga secara aktif
4. beri dorongnan kepada pasien / keluarga untuk mengungkapkan perasaan
5. berikan perawatan dengan cara yang tidak menghakimi, peihara privasi.
Dx. IV Resko Infeksi b.d pemajanan melalaui kontak ( langsung / tidak langsung )
NOC : Pengendalian Infeksi
Kriteria Hasil :
• Memantau factor resiko lingkungan dan perilaju seseorang
• Menghindari pajanan terhadap ancaman kesehatan
• Mengubah gaya hidup untuk mengurangi resiko
• Melaporkn tanda dan gejala infeksi
NIC : Pengendalian Infeksi
Intervensi :
1. pantau tanda / gejala infeksi
2. ajarkan pasien / pengunjung untuk mencuci tangan dengn benar
3. ajarkan pasien dan keluarga kapan harus melaporkan tanda / gejala infeksi
4. batasi jumlah pengunjung, bila diperlukan.
Intervensi :
1. pantau tanda / gejala infeksi
2. ajarkan pasien / pengunjung untuk mencuci tangan dengn benar
3. ajarkan pasien dan keluarga kapan harus melaporkan tanda / gejala infeksi
4. batasi jumlah pengunjung, bila diperlukan.
J.
Konsep Legal
dan Etik
a.
Prinsip Etik
1.
Respect (Hak untuk dihormati)
Perawat harus menghargai hak-hak
pasien/klien.
2.
Autonomy (hak pasien memilih)
Hak pasien untuk memilih treatment terbaik
untuk dirinya.
3.
Beneficence (Bertindak untuk keuntungan orang
lain/pasien)
Kewajiban untuk melakukan hal tidak
membahayakan pasien/orang laindan secara aktif berkontribusi bagi kesehatan dan
kesejahteraan pasiennya.
4.
Non-Maleficence (utamakan-tidak mencederai orang lain)
Kewajiban perawat untuk tidak dengan
sengaja menimbulkan kerugianatau cidera. Prinsip : Jangan membunuh,
menghilangkan nyawa orang lain, jangan menyebabkab nyeri atau penderitaan pada
orang lain, jangan membuat orang lain berdaya dan melukai perasaaan orang lain.
5.
Confidentiality (hak kerahasiaan)
Menghargai kerahasiaan terhadap
semua informasi tentang pasien/klienyang dipercayakan pasien kepada perawat.
6.
Justice (keadilan)
Kewajiban untuk berlaku adil kepada
semua orang. Perkataan adil sendiriberarti tidak memihak atau tidak berat
sebelah.
7.
Fidelity (loyalty/ketaatan)
·
Kewajiban untuk setia terhadap kesepakatan dan
bertanggungjawabterhadap kesepakatan yang telah diambil.
·
Era modern, pelayanan kesehatan : Upaya Tim
(tanggungjawab tidakhanya pada satu profesi). 80% kebutuhan dipenuhi perawat.
·
Masing-masing profesi memiliki aturan tersendiri yang
berlaku.
·
Memiliki keterbatasan peran dan berpraktik dengan
menurut aturan yangdisepakati.
8.
Veracity (Truthfullness & honesty)
·
Kewajiban untuk mengatakan kebenaran.
·
Terkait erat dengan prinsip otonomi, khususnya terkait
informed-consent
·
Prinsip veracity mengikat pasien dan perawat untuk
selalu mengutarakankebenaran
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Herpes zooster adalah radang kulit akut dengan sifat khasnya yaitu terdapat vesikel yang
tersusun kelompok sepanjang persyarafan sensorik sesuai dengan dermatomnya dan biasanya
unilateral. (Purrawan Juradi,
1982 : 510). Herpes zooster
disebabkan oleh virus varicella zooster (VVZ) dan tergolong virus berinti DNA
dengan masa inkubasi 14–21 hari. Faktor
resiko pada penyakit herpes zooster diantaranya : usia lebih dari 50 tahun, orang yang
mengalami penurunan kekebalan (immunocompromised) seperti HIV dan leukimia, orang
dengan terapi radiasi dan kemoterapi dan orang dengan transplantasi organ mayor
seperti transplantasi sumsum tulang. Adapun faktor pencetus kambuhnya herpes
zooster diantaranya : kelelahan, stress, dsb. Pemeriksaan diagnostik yang dapat
dilakukan pada penyakit herpes zooster diantaranya : deteksi antibody terhadap
infeksi virus, kultur virus, kultur dari cairan vesikel dan tes antibody, mengidentifikasi
varicella di sel kulit, dsb. Pengobatan pada penyakit herpes zooster
diantaranya : Aciclovir, imun globulin varicella-khusus (V-Zig), vaksinasi.
Menurut
kelompok, kami menyimpulkan dari tanda dan gejala pada kasus pemicu 1
menunjukkan bahwa Ny. R menderita penyakit kulit dengan kasus penyakit Herpes
Zooster. Pada kasus ini juga kami
menyimpulkan bahwa Ny. R terkena herpes zooster dengan klasifikasi
herpes zooster torakalis. Klasifikasi tersebut ditandai dengan adanya
bintik-bintik berisi air yang berada pada bagian torakal anterior dextra dekat
sternum dan thorakal posterior dekat dengan aksila dextra. Kelompok kami pun
menyimpulkan prioritas diagnosa keperawatan yaitu kerusakan integritas kulit
berhubungan dengan penurunan imunologi ditandai dengan kerusakan lapisan kulit,
nyeri akut berhubungan dengan reaksi biologis ditandai dengan indikasi nyeri
yang dapat diamati, resiko infeksi ditandai dengan pertahanan tubuh primer yang
tidak adekuat.
B.
Kritik
dan Saran
Ø Makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan
kritik dan saran yang membangun.
Ø
Semoga
makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa/i Fakultas Kesehatan Prodi S1 Keperawatan
Universitas Muhammadiyah Tangerang.
