Kamis, 28 Juli 2016

Auhan Keperawatan Sirosis Hepatis



BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Penyakit sirosis hepatis merupakan penyebab kematian terbesar setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker (Lesmana, 2004). Diseluruh dunia sirosis hepatis menempati urutan ketujuh penyebab kematian. Sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Sirosis hepatis merupakan penyakit hati yang sering ditemukan dalam ruang perawatan dalam. Gejala klinis dari sirosis hepatis sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala sampai dengan gejala yang sangat jelas. Apabila diperhatikan, laporan di negara maju, maka kasus sirosis hepatis yang datang berobat kedokter hanya kira-kira 30% dari seluruh populasi penyakit ini dan lebih dari 30% lainnya ditemukan secara kebetulan ketika berobat , sisanya ditemukan saat otopsi (Sutadi, 2003).
Menurut organisasi kesehatan dunia (WHO), pada tahun 2006 sekitar 170 juta umat manusia terinfeksi sirosis hepatis. Angka ini meliputi sekitar 3% dari seluruh populasi manusia di dunia dan setiap tahunnya infeksi baru sirosis hepatis bertambah 3-4 juta orang. Angka prevalensi penyakit sirosis hepatis di Indonesia, secara pasti belum diketahui. Prevalensi penyakit sirosis hepatis pada tahun 2007 di Indonesia berkisar antara 1-2,4%. Dari rata-rata prevalensi (1,7%), diperkirakan lebih dari 7 juta penduduk Indonesia mengidap sirosis hepatis (Anonim, 2008).

B.     Tujuan Penulisan
a)      Mengetahui Pengertian Sirosis Hepatis
b)      Mengetahui Etiologi Sirosis Hepatis
c)      Mengetahui Tanda Sirosis Hepatis
d)     Mengetahui Patofisiologi Sirosis Hepatis
e)      Mengetahui pemeriksaan penunjang
f)       Mengetahui Penatalaksanaan Sirosis Hepatis
g)      Mengetahui aspek legal etik
h)      Mengetahui Asuhan Keperawatan pada pasien Sirosis Hepatis
C.    Ruang Lingkup Penulisan
Ruang lingkup penulisan makalah ini hanya membahas tentang Sirosis Hepatis.

D.    Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan makalah ini terdiri dari Bab I Pendahuluan, berisi : latar belakang, tujuan penulisan, ruang lingkup dan sistematika penulisan ; Bab 2 Tinjauan Tiori, berisi Sirosis Hepatis :  dan Bab 3 Tinjauan Kasus, berisi Kasus : Bab 4 Penutup, berisi : kesimpulan dan saran.























BAB II
TINJAUAN TEORI

A.    Definisi
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati kronis yang tidak diketahui penyebabnya dengan pasti. Telah diketahui bahwa penyakit ini merupakan stadium terakhir dari penyakit hati kronis dan terjadinya pengerasan dari hati (Sujono H, 2002).
Sirosis Hepatis (Sirosis Hati) adalah penyakit hati menahun yang difus ditandai dengan adanya pembentukan jaringan ikat disertai nodul. Biasanya dimulai dengan adanya proses peradangan nekrosis sel hati yang luas, pembentukan jaringan ikat dan usaha regenerasi nodul. Distorsi arsitektur hati akan menimbulkan perubahan sirkulasi mikro dan makro menjadi tidak teratur akibat penambahan jaringan ikat dan nodul tersebut (Suzanne C. Smeltzer dan Brenda G. Bare, 2001).
Sirosis adalah suatu keadaan patologis yang menggambarkan stadium akhir fibrosis hepatic yang berlangsung progresif yang ditandai dengan distori dari arsitektur hepar dan pembentukan nodulus regenerative (Sudoyo Aru, dkk 2009).

B.     Klasifikasi
Secara klinis chirrosis hati dibagi menjadi:
1.      Chirrosis hati kompensata, yang berarti belum adanya gejala klinis yang nyata
2.      Chirrosis hati dekompensata yang ditandai gejala-gejala dan tanda klinik yang jelas. Chirrosis hati kompensata merupakan kelanjutan dari proses hepatitis kronik dan pada satu tingkat tidak terlihat perbedaanya secara klinis, hanya dapat dibedakan melalui biopsi hati.
Secara morfologi Sherrlock membagi Chirrosis hati bedasarkan besar kecilnya nodul, yaitu:
a.       Makronoduler (Ireguler, multilobuler)
b.      Mikronoduler (reguler, monolobuler)
c.       Kombinasi antara bentuk makronoduler dan mikronoduler.

Menurut Gall seorang ahli penyakit hati, membagi penyakit chirrosis hati atas:
a.       Chirrosis Postnekrotik, atau sesuai dengan bentuk sirosis makronoduler atau sirosis toksik atau subcute yellow, atrophy chirrosis yang terbentuk karena banyak terjadi jaringan nekrose.
b.      Nutrisional chirrosis , atau sesuai dengan bentuk sirosis mikronoduler, chirrosis alkoholik, Laennec´s cirrhosis atau fatty cirrhosis. Chirrosis terjadi sebagai akibat kekurangan gizi, terutama faktor lipotropik.
c.       Chirrosis Post hepatic, chirrosis yang terbentuk sebagai akibat setelah menderita hepatitis.

Shiff dan Tumen secara morfologi membagi atas:
1.      Chirrosis portal laennec (alkoholik nutrisional), dimana jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Sering disebabkan oleh alkoholis kronis
2.      Chirrosis pascanekrotik, dimana terdapat pita jaringan parut yang lebar sebagai akibat lanjut dari hepatitis virus akut yang terjadi sebelumnya.
3.      Chirrosis bilier, dimana pembentukan jaringan parut terjadi dalam hati di sekitar saluran empedu. Terjadi akibat obstruksi bilier yang kronis dan infeksi (kolangitis).
Bagian hati yang terlibat terdiri atas ruang portal dan periportal tempat kanalikulus biliaris dari masing-masing lobulus hati bergabung untuk membentuk saluran empedu baru. Dengan demikian akan terjadi pertumbuhan jaringan yang berlebihan terutama terdiri atas saluran empedu yang baru dan tidak berhubungan yang dikelilingi oleh jaringan parut.







C.    Etiologi
Penyebab Chirrosis Hepatis :
Secara morfologis, penyebab sirosis hepatis tidak dapat dipastikan. Tapi ada  dua penyebab yang dianggap paling sering menyebabkan Chirrosis hepatis adalah:

1.      Hepatitis virus
        Hepatitis virus terutama tipe B sering disebut sebagai salah satu penyebab
chirrosis hati, apalagi setelah penemuan Australian Antigen oleh Blumberg pada tahun 1965 dalam darah penderita dengan penyakit hati kronis , maka diduga mempunyai peranan yang besar untuk terjadinya nekrosa sel hati sehingga terjadi chirrosisi. Secara klinik telah dikenal bahwa hepatitis virus B lebih banyak mempunyai kecenderungan untuk lebih menetap dan memberi gejala sisa serta menunjukan perjalanan yang kronis, bila dibandingkan dengan hepatitis virus A
2.      Zat hepatotoksik atau Alkoholisme.
        Beberapa obat-obatan dan bahan kimia dapat menyebabkan terjadinya kerusakan pada sel hati secara akut dan kronis. Kerusakan hati akut akan berakibat nekrosis atau degenerasi lemak, sedangkan kerusakan kronis akan berupa sirosis hati. Zat hepatotoksik yang sering disebut-sebut ialah alcohol. Sirosis hepatis oleh karena alkoholisme sangat jarang, namun peminum yang  bertahun-tahun mungkin dapat mengarah pada kerusakan parenkim hati.
3.      Hemokromatosis
Bentuk chirrosis yang terjadi biasanya tipe portal. Ada dua kemungkinan timbulnya hemokromatosis, yaitu:
a.          Sejak dilahirkan si penderita menghalami kenaikan absorpsi dari Fe.
b.         Kemungkinan didapat setelah lahir (acquisita), misalnya dijumpai pada penderita dengan penyakit hati alkoholik. Bertambahnya absorpsi dari Fe, kemungkinan menyebabkan timbulnya sirosis hati.


D.    Anatomi dan Fungsi Hati
1.       Anatomi hati
Hati adalah organ yang terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di bawah diafragma. Beratnya 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa normal. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah.  
Hati terbagi menjadi lobus kiri dan lobus kanan yang dipisahkan oleh ligamentum falciforme, di inferior oleh fissure dinamakan dengan ligamentum teres dan di posterior oleh fissure dinamakan dengan ligamentum venosum. . Lobus kanan hati enam kali lebih besar dari lobus kirinya dan mempunyai 3 bagian utama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus, dan lobus quadrates. Hati dikelilingi oleh kapsula fibrosa yang dinamakan kapsul glisson dan dibungkus peritorium pada sebagian besar keseluruhan permukaannnya
Hati disuplai oleh dua pembuluh darah yaitu : Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya akan nutrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan mineral dan Arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.

2.         Fungsi hati
     Hati selain salah satu organ di badan kita yang terbesar , juga mempunyai fungsi yang terbanyak. Fungsi dari hati dapat dilihat sebagai organ keseluruhannya dan dapat dilihat dari sel-sel dalam hati.
a.       Fungsi hati sebagai organ keseluruhannya diantaranya ialah;
1)      Ikut mengatur keseimbangan cairan dan elekterolit, karena semua cairan dan garam akan melewati hati sebelum ke jaringan ekstraseluler lainnya.
2)      Hati bersifat sebagai spons akan ikut mengatur volume darah, misalnya pada dekompensasio kordis kanan maka hati akan membesar.
3)      Sebagai alat saringan (filter)
Semua makanan dan berbagai macam substansia yang telah diserap oleh intestine akan dialirkan ke organ melalui sistema portal.
b.      Fungsi dari sel-serl hati dapat dibagi
1)      Fungsi Sel Epitel di antaranya ialah:
a)      Sebagai pusat metabolisme di antaranya metabolisme hidrat, arang, protein, lemak, empedu, Proses metabolisme akan diuraikan sendiri
b)      Sebagai alat penyimpan vitamin dan bahan makanan hasil metabolisme. Hati menyimpan makanan tersebut tidak hanya untuk kepentingannnya sendiri tetapi untuk organ lainya juga.
c)      Sebagai alat sekresi untuk keperluan badan kita: diantaranya akan mengeluarkan glukosa, protein, factor koagulasi, enzim, empedu.
d)     Proses detoksifikasi, dimana berbagai macam toksik baik eksogen maupun endogen yang masuk ke badan akan mengalami detoksifikasi dengan cara oksidasi, reduksi, hidrolisa atau konjugasi.
2)        Fungsi sel kupfer sebagai sel endotel mempunyai fungsi sebagai  
                              
sistem retikulo endothelial.
a.       Sel akan menguraikan Hb menjadi bilirubin
b.      Membentuk a-globulin dan immune bodies
c.       Sebagai alat fagositosis terhadap bakteri dan elemen

E.     Tanda gejala dan Tanda Klinis
1.       Gejala
Gejala chirrosis hati mirip dengan hepatitis, karena terjadi sama-sama di liver yang mulai rusak fungsinya, yaitu: kelelahan, hilang nafsu makan, mual-mual, badan lemah, kehilangan berat badan, nyeri lambung dan munculnya jaringan darah mirip laba-laba di kulit (spider angiomas). Pada chirrosis terjadi kerusakan hati yang terus menerus dan terjadi regenerasi noduler serta ploriferasi jaringan ikat yang difus.



2.      Tanda Klinis
Tanda-tanda klinik yang dapat terjadi yaitu:
a.                                                       Adanya ikterus (penguningan) pada penderita chrirosis.
Timbulnya ikterus (penguningan ) pada seseorang merupakan tanda bahwa ia sedang menderita penyakit hati. Penguningan pada kulit dan mata terjadi ketika liver sakit dan tidak bisa menyerap bilirubin. Ikterus dapat menjadi penunjuk beratnya kerusakan sel hati. Ikterus terjadi sedikitnya pada 60 % penderita selama perjalanan penyakit
b.                               Timbulnya asites dan edema pada penderita chirrosis
Ketika liver kehilangan kemampuannya membuat protein albumin, air menumpuk pada kaki (edema) dan abdomen (ascites). Faktor utama asites adalah peningkatan tekanan hidrostatik pada kapiler usus . Edema umumnya timbul setelah timbulnya asites sebagai akibat dari hipoalbuminemia dan resistensi garam dan air.
c.                               Hati yang membesar
Pembesaran hati dapat ke atas mendesak diafragma dan ke bawah. Hati membesar sekitar 2-3 cm, dengan konsistensi lembek dan menimbulkan rasa nyeri bila ditekan.
d.                              Hipertensi portal
Hipertensi portal adalah peningkatan tekanan darah vena portal yang memetap di atas nilai normal. Penyebab hipertensi portal adalah peningkatan resistensi terhadap aliran darah melalui hati.

F.     Patofisiologi
TERLAMPIR....





G.    Komplikasi
Komplikasi chirrosis hati yang dapat terjadi antara lain:
1.      Perdarahan
Penyebab perdarahan saluran cerna yang paling sering dan berbahaya pada chirrosis hati adalah perdarahan akibat pecahnya varises esofagus. Sifat perdarahan yang ditimbulkan ialah muntah darah atau hematemesis, biasanya mendadak tanpa didahului rasa nyeri. Darah yang keluar berwarna kehitam-hitaman dan tidak akan membeku karena sudah bercampur dengan asam lambung. Penyebab lain adalah tukak lambung dan tukak duodeni.
2.      Koma hepatikum
Timbulnya koma hepatikum akibat dari faal hati yang sudah sangat rusak, sehingga hati tidak dapat melakukan fungsinya sama sekali. Koma hepatikum mempunyai gejala karakteristik yaitu hilangnya kesadaran penderita. Koma hepatikum dibagi menjadi dua, yaitu: Pertama koma hepatikum primer, yaitu disebabkan oleh nekrosis hati yang meluas dan fungsi vital terganggu seluruhnya, maka metabolism tidak dapat berjalan dengan sempurna. Kedua koma hepatikum sekunder, yaitu koma hepatikum yang timbul bukan karena kerusakan hati secara langsung, tetapi oleh sebab lain, antara lain karena perdarahan, akibat terapi terhadap asites, karena obat-obatan dan pengaruh substansia nitrogen.
3.      Ulkus Peptikum
Timbulnya ulkus peptikum pada penderita Sirosis Hepatis lebih besar bila dibandingkan dengan penderita normal. Beberapa kemungkinan disebutkan diantaranya ialah timbulnya hiperemi pada mukosa gaster dan duodenum, resistensi yang menurun pada mukosa, dan kemungkinan lain ialah timbulnya defisiensi makanan
4.      Karsinoma Hepatoselular
Kemungkinan timbulnya karsinoma pada Sirosis Hepatis terutama pada bentuk postnekrotik ialah karena adanya hiperplasi noduler yang akan berubah menjadi adenomata multiple kemudian berubah menjadi karsinoma yang multiple
5.      Infeksi
Setiap  penurunan kondisi badan akan mudah kena infeksi, termasuk juga penderita sirosis, kondisi badannya menurun. Infeksi yang sering timbul pada penderita sirosis, diantaranya adalah : peritonitis, bronchopneumonia, pneumonia, tbc paru-paru, glomeluronefritis kronik, pielonefritis, sistitis, perikarditis, endokarditis, erysipelas maupun septikemi.

H.    Pemeriksaan Penunjang
1.      Pemeriksaan Laboratorium
                                                             a.                                                   Urine
Dalam urine terdapat urobilnogen juga terdapat bilirubin bila penderita ada ikterus. Pada penderita dengan asites , maka ekskresi Na dalam urine berkurang ( urine kurang dari 4 meq/l) menunjukkan kemungkinan telah terjadi syndrome hepatorenal.
                                                            b.                                                   Tinja
Terdapat kenaikan kadar sterkobilinogen. Pada penderita dengan ikterus, ekskresi pigmen empedu rendah. Sterkobilinogen yang tidak terserap oleh darah, di dalam usus akan diubah menjadi sterkobilin yaitu suatu pigmen yang menyebabkan tinja berwarna cokelat atau kehitaman.
                                                             c.                                                   Darah
Biasanya dijumpai normostik normokronik anemia yang ringan, kadang –kadang dalam bentuk makrositer yang disebabkan kekurangan asam folik dan vitamin B12 atau karena splenomegali. Bilamana penderita pernah mengalami perdarahan gastrointestinal maka baru akan terjadi hipokromik anemi. Juga dijumpai likopeni bersamaan dengan adanya trombositopeni.
e.                          Tes Faal Hati
Penderita sirosis banyak mengalami gangguan tes faal hati, lebih lagi penderita yang sudah disertai tanda-tanda hipertensi portal. Pada sirosis globulin menaik, sedangkan albumin menurun. Pada orang normal tiap hari akan diproduksi 10-16 gr albumin, pada orang dengan sirosis hanya dapat disintesa antara 3,5-5,9 gr per hari.9 Kadar normal albumin dalam darah 3,5-5,0 g/dL38. Jumlah albumin dan globulin yang masing-masing diukur melalui proses yang disebut elektroforesis protein serum. Perbandingan normal albumin : globulin adalah 2:1 atau lebih. 39 Selain itu, kadar asam empedu juga termasuk salah satu tes faal hati yang peka untuk mendeteksi kelainan hati secara dini.
2.      Sarana Penunjang Diagnostik
a.       Radiologi
Pemeriksaan radiologi yang sering dimanfaatkan ialah,: pemeriksaan fototoraks, splenoportografi, Percutaneus Transhepatic Porthography (PTP
b.      Ultrasonografi
Ultrasonografi (USG) banyak dimanfaatkan untuk mendeteksi kelaianan di hati, termasuk sirosi hati. Gambaran USG tergantung pada tingkat berat ringannya penyakit. Pada tingkat permulaan sirosis akan tampak hati membesar, permulaan irregular, tepi hati tumpul, . Pada fase lanjut terlihat perubahan gambar USG, yaitu tampak penebalan permukaan hati yang irregular. Sebagian hati tampak membesar dan sebagian lagi dalam batas nomal.
c.       Peritoneoskopi (laparoskopi)
Secara laparoskopi akan tampak jelas kelainan hati. Pada sirosis hati akan jelas kelihatan permukaan yang berbenjol-benjol berbentuk nodul yang besar atau kecil dan terdapatnya gambaran fibrosis hati, tepi biasanya tumpul. Seringkali didapatkan pembesaran limpa.

I.       Penatalaksanaan Medis
1.      Istirahat di tempat tidur sampai terdapat perbaikan ikterus, asites, dan demam.
2.      Diet rendah protein (diet hati III protein 1gr/kg BB, 55 gr protein, 2.000 kalori). Bila ada asites diberikan diet rendah garam II (600-800 mg) atau III (1.000-2000 mg). Bila proses tidak aktif diperlukan diet tinggi kalori (2.000-3000 kalori) dan tinggi protein (80-125 gr/hari). Bila ada tanda-tanda prekoma atau koma hepatikum, jumlah protein dalam makanan dihentikan (diet hati II) untuk kemudian diberikan kembali sedikit demi sedikit sesuai toleransi dan kebutuhan tubuh. Pemberian protein yang melebihi kemampuan pasien atau meningginya hasil metabolisme protein, dalam darah viseral dapat mengakibatkan timbulnya koma hepatikum. Diet yang baik dengan protein yang cukup perlu diperhatikan.
3.      Mengatasi infeksi dengan antibiotik diusahakan memakai obat-obatan yang jelas tidak hepatotoksik.
4.      Mempebaiki keadaan gizi bila perlu dengan pemberian asam amino esensial berantai cabang dengan glukosa.
5.      Roboransia. Vitamin B compleks. Dilarang makan dan minum bahan yang mengandung alkohol.

Penatalaksanaan asitesis dan edema adalah :
1.      Istirahat dan diet rendah garam. Dengan istirahat dan diet rendah garam (200-500 mg perhari), kadang-kadang asitesis dan edema telah dapat diatasi. Adakalanya harus dibantu dengan membatasi jumlah pemasukan cairan selama 24 jam, hanya sampai 1 liter atau kurang.
2.      Bila dengan istirahat dan diet tidak dapat diatasi, diberikan pengobatan diuretik berupa spironolakton 50-100 mg/hari (awal) dan dapat ditingkatkan sampai 300 mg/hari bila setelah 3 – 4 hari tidak terdapat perubahan.
3.      Bila terjadi asites refrakter (asites yang tidak dapat dikendalikan dengan terapi medikamentosa yang intensif), dilakukan terapi parasentesis. Walupun merupakan cara pengobatan asites yang tergolong kuno dan sempat ditinggalkan karena berbagai komplikasinya, parasentesis banyak kembali dicoba untuk digunakan. Pada umunya parasentesis aman apabila disertai dengan infus albumin sebanyak 6 – 8 gr untuk setiap liter cairan asites. Selain albumin dapat pula digunakan dekstran 70 % Walaupun demikian untuk mencegah pembentukan asites setelah parasentesis, pengaturan diet rendah garam dan diuretik biasanya tetap diperlukan.
4.      Pengendalian cairan asites. Diharapkan terjadi penurunan berat badan 1 kg/hari. Hati-hati bila cairan terlalu banyak dikeluarkan dalam suatu saat, dapat mencetuskan ensefalopati hepatic
J.      Aspek legal etis
1.      Autonomi (Hak-hak)
·         Hak untuk mendapatkan pengobatan
·         Hak untuk mendapatkan kesembuhan
·         Hak untuk mengetahui penyakitnya
2.      Beneficiency (Berbuat baik)
·         Memberikan asuhan keperawatan dengan baik untuk menmulihkan keadaan pasien
3.      Justic (keadilan)
·         memberikan pelayanan dengan adil tidak membedakaan status sosial
4.      Nonmal  eficience ( Tidak Merugikan )
·         sebagai perawat kita tidak boleh memberikan perawatan yang tidak sesuai dengan SOP rumah sakit, untuk tidak terjadi kesalahan saat perawatan
5.      Veracity ( Kejujuran )
·         Mengatakan yang sebenar-benarnya kepada keluarga ataupun pasien yang bersangkutan tentang suatu penyakit yang dideritanya dengan pendekatan yang baik
6.      Fidellity (Menepati Janji)
·         Perawat harus mampu menepati waktu dalam minum obat ,misalnya dalam waktu 3x1 perawat harus memberikan obat selama 8 jam sekali .contohnya di waktu jam 8 pagi , jam 4 sore, dan jam12 malam
7.      Confidentiality ( Kerahasiaan )
·         Perawat harus mampu merahasiakan tentang  penyakit pasien kepada sesama perawat dilingkungan rumah sakit kecuali dilingkungan dia berada. Dan tanyakan kepada pasien hanya siapa saja yang dapat mengetahuinya penyakitnya.
8.      Accountability ( Akuntabilitas )
·         Melakukan tindakan pemberian obat sesuai etiket
9.      Informed Consen
·         Memberi informasi tentang obat yang akan diberikan,lamanya waktu obat yang akan diminum yang akan diberikan,dosis yang diberikan,dan efek dari obat yang akan diminum.


K.    ASUHAN KEPERAWATAN PADA SIROSIS HEPATIS

1.      Identitas Klien
Nama         :  Tn. R
Umur         :  50 tahun
Agama       :  Islam
Jenis Kelamin  :  laki-laki
Pendidikan      :  SMP
Pekerjaan   :  Seorang Pelaut
Alamat       :  Jl. Dr Soetomo No. 10 Pamekasam
Status         :  Menikah

Keluhan utama
-                                                               Nausea
Riwayat penyakit sekarang
-                                                               Pembesaran Hati (hepatomegali)




Riwayat kesehatan lalu
-                 Klien mempunyai kebiasaan minum alkohol sejak muda, beberapa bulan ini klien sering merasa seperti orang ngidam dengan adanya nausea dan terdapat hepatomegali
Riwayat kesehatan keluarga :
-                                                                
2.      Pengkajian
1.        Aktivitas dan istirahat
Kelemahan
2.        Sirkulasi
Riwayat Gagal jantung koroner kronis, perikarditis, penyakit jantung, reumatik, kanker (malfungsi hati menimbulkan gagal hati), Distrimia, bunyi jantung ekstra (S3, S4).
3.        Eliminasi
Melena dengan konsistensi feses cair
4.        Nutrisi
Mual, muntah seperti orang ngidam
5.        Neurosensori
Orang terdekat dapat melaporkan perubahan keperibadian, penurunan mental, perubahan mental, bingung halusinasi, koma bicara lambat/tak jelas.
6.        Nyeri
Nyeri tekan abdomen/nyeri kuadran kanan atas
7.        Respirasi
Ekspansi paru terbatas (asites), Hipoksia
8.        Kulit
Ikterus
9.        Abdomen
Acites yang tegang sampai tampak seperti spider nevi, adanya hepatomegali, dan terdapat nyeri tekan pada kuadran kanan atas

3.      Diagnosa Keperawatan
1.   Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologi (hati yang membesar serta nyeri tekan dan asites)
2.   Kelebihan volume cairan tubuh b/d asites
3.   Resiko Nutrisi kurang dari kebutihan tubuh b/d nausea

Analisa Data
Data
Etiologi
Problem
1.                                                                                                                                                               Ds
–       klien mengatakan mempunyai kebiasaan minum alkohol sejak muda
–        Klien mengeluh nyeri tekan pada kuadran kanan atas

Do
–        saat dipalpasi perut kuadran kanan atas terdapat hepatomegali dan mengeluh nyeri bila ditekan
-                                                        perut acites yang tegang sampai
tampak seperti spider nevi

2. Ds : -
Do :
–       perut acites yang tegang sampai tampak seperti spider nevi
–       hasil USG : ditemukan jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal
3. Ds
–        Klien mengatakan beberapa bulan ini seperti orang ngidam dengan adanya mual muntah
      Do :
-                     Sementara Tn.R dipuasakan dan terpasang NGT
Alkohol merusak hati

Hati membesar dan lemak penuh di hati

Nyeri tekan







Hati tidak mampu mebuat protein albumin

Air menumpuk pada abdomen

asites
Hati tidak dapat mengurai lemak

Merusak paremkin hati

Ke gagalan paremkin hati

Nausea

Nyeri












Kelebihan volume cairan tubuh






Resiko Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh


























RENCANA KEPERAWATAN
Diagnosa Keperawatan
Rencana Keperawatan
NOC
NIC
Rasional
Nyeri berhubungan dengan agen injuri biologi (hati yang membesar serta nyeri tekan dan asites)
Tujuan: Peningkatan rasa kenyamanan
Kriteria Hasil:
      Mempertahankan tirah baring dan mengurangi aktivitas ketika nyeri terasa.
      Menggunakan antipasmodik dan sedatif sesuai indikasi dan resep yang diberikan.
      Melaporkan pengurangan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman pada abdomen.
      Melaporkan rasa nyeri dan gangguan rasa nyaman jika terasa.
      Mengurangi asupan natrium dan cairan sesuai kebutuhan hingga tingkat yang diinstruksikan untuk mengatasi asites.
      Merasakan pengurangan rasa nyeri.
      Memperlihatkan pengurangan rasa nyeri.
      Memperlihatkan pengurangan lingkar perut dan perubahan berat badan yang sesuai.
1.     Pertahankan tirah baring ketika pasien mengalami gangguan rasa nyaman pada abdomen.
2.     Berikan antipasmodik dan sedatif seperti yang diresepkan.
3.     Kurangi asupan natrium dan cairan jika diinstruksikan.
1.     Mengurangi kebutuhan metabolik dan melindungi hati.
2.     Mengurangi iritabilitas traktus gastrointestinal dan nyeri serta gangguan rasa nyaman pada abdomen.
3.     Memberikan dasar untuk mendeteksi lebih lanjut kemunduran keadaan pasien dan untuk mengevaluasi intervensi.
4.     Meminimalkan pembentukan asites lebih lanjut.








Kelebihan volume cairan berhubungan dengan asites
Tujuan: Pemulihan kepada volume cairan yang normal
Kriteria Hasil:
       Mengikuti diet rendah natrium dan pembatasan cairan seperti yang diinstruksikan.
       Menggunakan diuretik, suplemen kalium dan protein sesuai indikasi tanpa mengalami efek samping.
       Memperlihatkan peningkatan haluaran urine.


       Memperlihatkan pengecilan lingkar perut.
       Mengidentifikasi rasional pembatasan natrium dan cairan.
1.     Batasi asupan natrium dan cairan jika diinstruksikan.
2.     Berikan diuretik, suplemen kalium dan protein seperti yang dipreskripsikan.
3.     Catat asupan dan haluaran cairan.
4.     Ukur dan catat lingkar perut setiap hari.
5.     Jelaskan rasional pembatasan natrium dan cairan.
1.     Meminimalkan pembentukan asites dan edema.
2.     Meningkatkan ekskresi cairan lewat ginjal dan mempertahankan keseimbangan cairan serta elektrolit yang normal.
3.     Menilai efektivitas terapi dan kecukupan asupan cairan.
4.     Memantau perubahan pada pembentukan asites dan penumpukan cairan.
5.     Meningkatkan pemahaman dan kerjasama pasien dalam menjalani dan melaksanakan pembatasan cairan.




Resiko nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan mual muntah
Tujuan: Perbaikan status nutrisi
Kriteria Hasil:
   Memperlihatkan asupan makanan yang tinggi kalori, tinggi protein dengan jumlah memadai.
   Mengenali makanan dan minuman yang bergizi dan diperbolehkan dalam diet.
   Bertambah berat tanpa memperlihatkan penambahan edema dan pembentukan asites.
   Mengenali dasar pemikiran mengapa pasien harus makan sedikit-sedikit tapi sering.
   Melaporkan peningkatan selera makan dan rasa sehat.
   Menyisihkan alkohol dari dalam diet.
   Turut serta dalam upaya memelihara higiene oral sebelum makan dan menghadapi mual.
   Menggunakna obat kelainan gastrointestinal seperti yang diresepkan.
   Melaporkan fungsi gastrointestinal yang normal dengan defekasi yang teratur.
   Mengenali gejala yang dapat dilaporkan: melena, pendarahan yang nyata.
1.  Motivasi pasien untuk makan makanan dan suplemen makanan.
2.  Tawarkan makan makanan dengan porsi sedikit tapi sering.
3.  Hidangkan makanan yang menimbulkan selera dan menarik dalam penyajiannya.
4.  Pantang alkohol.
5.  Pelihara higiene oral sebelum makan.
6.  Pasang ice collar untuk mengatasi mual.
7.  Berikan obat yang diresepkan untuk mengatasi mual, muntah, diare atau konstipasi.
8.  Motivasi peningkatan asupan cairan dan latihan jika pasien melaporkan konstipasi.
9.  Amati gejala yang membuktikan adanya perdarahan gastrointestinal.
1.   Motivasi sangat penting bagi penderita anoreksia dan gangguan gastrointestinal.
2.   Makanan dengan porsi kecil dan sering lebih ditolerir oleh penderita anoreksia.
3.Meningkatkan selera makan dan rasa sehat.
4.   Menghilangkan makanan dengan “kalori kosong” dan menghindari iritasi lambung oleh alkohol.
5.   Mengurangi citarasa yang tidak enak dan merangsang selera makan.
6.   Dapat mengurangi frekuensi mual.
7.   Mengurangi gejala gastrointestinal dan perasaan tidak enak pada perut yang mengurangi selera makan dan keinginan terhadap makanan.
8.   Meningkatkan pola defekasi yang normal dan mengurangi rasa tidakenak serta distensi pada abdomen.
9.   Mendeteksi komplikasi gastrointestinal yang serius.


















BAB III
Tinjauan Kasus
Modul Perut Bengkak Penuh Cairan
Pak Rudi (50th) seorang pelaut yang mempunyai kebiasan minum alkohol sejak muda, beberapa bulan ini sering terasa seperti orang ngidam dengan adanya nausea, saat palpasi perut kanan atas terdapat hepatomegali lalu klien mengeluh nyeri bila ditekan. Pak Rudi dirawat dirumah sakit dan saat pemeriksaan fisik ditemukan : melena dengan kosistensi feses cair. Sementara pak rudi dipuasakan dan dipasang NGT yang keluar cairan darah, hasil USG : ditemukan jaringan parut secara khas mengelilingi daerah portal. Klien tampak ikterus dan acites yang tegang sampai tampak seperti spider nevi.

  1.      Keyword :
1.      Nausea
2.      Hepatomegali
3.      Melena
4.      Konsistensi feses cair
5.      Ikterus
6.      Acites
7.      Spider nevi
8.      NGT yang keluar cairan darah
9.      USG
10.  Jaringan parut
11.  Kebiasaan minum alkohol
12.  Daerah portal
  1.       Definisi Masalah menurut kelompok :
1.      Nausea adalah suatu keadaan fisiologis seseorng seperti perasaan mau muntah.
2.      Hepatomegali adalah pembesaran hati yang diakibatkan karena gangguan metabolisme.
3.      Melena adalah BAB yang keluar darah atau bercampur darah.
4.      Kosistensi feses cair  adalah terjadi karena makanan yang diusus besar tidak bisa dicerna atau gangguan pencernaan.
5.      NGR yang keluardarah adalah karena adanya gangguan di lambung yang menyebabkan peradangan.
6.      Ikterus adalah suatu keadaan bilirubin yangmeningkat yang menyebabkan kulit dan mata menjadi kuning.
7.      Acites adalah kondisi dimana rongga perut terdapat cairan yang berlebih.
8.      Spider Nevi adalah pembuluh darah yang melebar yang berbantuk seperti jaring laba-laba.
9.      USG adalah Ultra Sonografi yang berupa gambar untuk melihat organ dalam.
10.  Jaringan parut adalah jaringan yang abnormal atau jaringan yang berbentuk fibrin. Jaringan parut menandakan sirosis hati.
11.  Kebiasaan minm alkohol adalah cairan yang memberikan energi.
12.  Daerah portal adalah lobus semua hati.
  1.       Analisa Masalah :
1.      Kenapa bisa terjadi nausea?
Karena ada pembesaran hati yang menyebabkan meningkatnya tekanan di abdomen
2.      Kenapa bisa terjadi hepatomegali?
Karena adanya gangguan pada sistem metabolisme.
3.      Kenapa bisa terjadi melena?
Karena adanya perlukaan pada usus besar.
4.      Kenapa bisa terjadi jaringan parut?
Karena ada proses peradangan dipencernaan.
5.      Kenapa bisa terjadi spider nevi?
Karena adanya pelebara pembuluh darah akibat acites.
6.      Kenapa bisa terjadi acites?
Karena ada pecahnya pembuluh darah atau cairan keluar di ekstraselular dan intraselular.
7.      Kenapa nyeri kanan atas?
Karena secara anatomis hati terdapat di sebalah kanan atas maka jika ada gangguan maka sakit pada bagian kanan atas.
8.      Kenapa feses cair?
Karena sudah terdapat iritasi maka makanan tidak dapat diserap dengan baik.
9.      Kenapa pasien dipuasakan?
Karena untuk menurunkan fungsi hati dan fungsi penyerapan di usus.
10.  Kenapa NGT yang keluar cairan darah?
Karena adanya peradangan pada lambung.
11.  Kenapa USG terdapat jaringan parut?
Karena adanya proses inflamasi.
12.  Kenapa jaringan parut mengelilingi portal?

13.  Kenapa alkohol menjadi penyebab utama sirosis hepatis?
Karena alkohol mengandung lemak, jika dikonsumkansi terus menerus dapat mengakibatkan penumpukan lemak di hati.

  1.       Hal baru yang perlu diketahui dan dipelajari
1.      Tentang kandungan alkohol
2.      Pengertian sirosis hapati
3.      Penyebab
4.      Tanda gejala
5.      Patoflow
6.      Anfis hati
7.      Pemeriksaan penunjang
8.      Komplikasi
9.      Pengobatan
10.  Askep dan pemeriksaan fisik
11.  Legal etik
12.  Faktor resiko
13.  Proses terjadinya jaringan parut



  1.       Hal yang sudah diketahui tetapi perlu dipelajari lagi
1.      Penyakit
2.      Anfis
3.      Askep

F.     DK 2 Menurut Literatur
1.         Minuman beralkohol adalah minuman yang mengandung etanol. Etanol adalah bahan psikoaktif dan konsumsinya menyababkan penurunan kesadaran. Penyebab utama umum sirosis hati karena hal tersebut menimbulkan cedera pada sel hati.
2.         Kenapa terpasang NGT ?
Jaringan parut menghambat aliran darah ke hati dan menambah tekanan darah diparut. Akibat aliran darah yang meningkat dan peningkatan aliran darah pada kerongkongan yang lebih bawah dan lambung bagian atas mengembang dan dirujuk sebagai nervus esofageal semakin meningkat tekanan yang terjadi maka semakin banyak perdarahan yang dialamai varises diesofagus.
3.         Kenapa melena ?
Disebabkan karena hipertensi portal terjadi peningkatan darah ke hati dan menambah tekanan diperut akibat aliran darah yang meningkat peningkatan aliran darah pada kerongkongan yang lebih bawah dan lambung bagian atas sehingga terjadi pendarahan makanan yang ada dilambung terdorong bersama darah sehingga feses bercampur dengan darah.
4.         USG ?
Salah satu darah penunjang untuk serosis hati untuk mengetahui adanya pembesaran hati atau tidak.
5.         Kenapa ikterus ?
Disebabkan karena terganggunya metabolisme bilirubin dakam sel hati sehingga dapat merupakan penunjuk beratnya kerusakan hati.
6.         Kenapa acites ?
Disebabkan oleh hipertensi portal yang mengarah kepada peningkatan tekanan dalam cabang – cabang vena portal yang melalui hati dimana darah tidak dapat mengalir melalui hati karena peningkatan tekanan yang akhir nya akan bocor kerongga perut menyebabkan acites.
7.         Kenapa spider nevi ?
Karena pada sirosis hati ditemukan pada daerah pleura maupun subpleura / dengan autopesi mikroskopik sirosis hati berhubungan dengan sirkulasi hiperdinamik dan spider nevi merupakan manifestasi kulit dari sirkulasi ini.
8.         Kenapa hepatomegali ?
Hal ini terjadi karena mengkonsumsi alkohol yang berlebihan dan sel-sel hati dipenuhi lemak. Hati tersebut menjadi keras dan memiliki tepi tajam yang dapat diketahui melalui palpasi.
9.         Kenapa nausea ?
Suatu tanda dan gejala serosi hati karena adanya kerusakan paremkin hati sehingga menimbulkan nausea dan anoreksia.
10.     Kenapa dipuasakan ?
Puasa mengurangi beban kerja hati dalam mencerna dan meningkatkan pembuangan cairan empedu didalam darah dan dihati.
  














BAB IV
PENUTUP

A.                                             Kesimpulan

Sirosis Hepatis merupakan perubahan struktur sel hati (fibrosis). Pentingnya identifikasi dini terhadap gejala yang timbul (pemeriksaan fisik dan penunjang). Merupakan penatalaksanan preventif segera dan tepat akan menurunkan resiko komplikasi dan progresifitas penyakit. Kemampuan perawat klinik yang memadai dalam memahami kondisi sirosis hepatis.


B.                                             Kritik dan Saran
Ø  Makalah ini jauh dari sempurna, untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang membangun.
Ø  Semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca, khususnya mahasiswa/i Fakultas Kesehatan Prodi S1 Keperawatan Universitas Muhammadiyah Tangerang.






DAFTAR PUSTAKA

Joane C. Mc. Closkey, Gloria M. Bulechek, 2006, Nursing Interventions Classification (NIC), Mosby Year-Book, St. Louis
Kuncara, H.Y, dkk, 2002, Buku Ajar Keperawatan Medikal-Bedah Brunner & Suddarth, EGC, Jakarta
Marion Johnson, dkk, 2000, Nursing Outcome Classifications (NOC), Mosby Year-Book, St. Louis
Marjory Gordon, dkk, 2001, Nursing Diagnoses: Definition & Classification 2001-2002,  NANDA
Smeltzer, Suzanne C dan Brenda G. Bare. (2001). Keperawatan medikal bedah 2. (Ed 8). Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran (EGC).
Soeparman. (2004). Ilmu Penyakit Dalam, Balai Penerbit FKUI, Jakarta.

 


Tidak ada komentar:

Posting Komentar